JAKARTA – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) memberikan pinjaman kepada dua anak usahanya dengan nilai total USD20 juta atau setara Rp306,12 miliar. Direktur Austindo Nusantara Jaya Naga Waskita menjelaskan bahwa fasilitas pinjaman diberikan kepada PT Permata Putera Mandiri dan PT Putera Manunggal Perkasa berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada 3 Maret 2023.
Melansir Harian Neraca, Selasa (7/2/2023), nilai fasilitas yang diberikan untuk masing-masing mencapai USD10 juta. Pinjaman diberikan dengan suku bunga referensi Secured Overnight Funding Rate (SOFR) satu bulan, ditambah Credit Adjustment Spread dan 2,25% per tahun untuk pinjaman yang ditarik dalam mata uang dolar Amerika Serikat.
Sementara itu untuk pinjaman yang ditarik dalam mata uang rupiah adalah sebesar 8,25%. Disebutkan, fasilitas pinjaman diberikan untuk tujuan pembiayaan kegiatan operasional dan modal kerja.
Adapun ketersediaan fasilitas pinjaman ini adalah satu tahun sampai dengan 2 Maret 2024 dan akan diperpanjang secara otomatis untuk satu tahun berikutnya. Sebagai catatan, PT Permata Putera Mandiri dan PT Putera Manunggal merupakan anak perusahaan ANJT yang 99% sahamnya dimiliki secara langsung maupun tidak langsung.
Pemberian fasilitas pinjaman ini juga telah memperoleh persetujuan dari jajaran direksi Austindo. ANJT sebelumnya menyatakan tidak memiliki rencana untuk menambah area perkebunan pada 2023. Selain karena moratorium yang berlaku sejak 2018, ANJT bakal mengandalkan kenaikan produktivitas dari perkebunannya untuk mengerek volume produksi.
Tahun ini, Austindo menargetkan produksi minyak sawit sawit mentah atau CPO naik sekitar 10% menjadi 303.345 ton pada 2023. Kenaikan ini dibidik meskipun terdapat risiko iklim yang lebih ekstrem pada tahun ini dan ketiadaan penambahan area perkebunan baru.
“Hal ini didukung oleh penambahan area menghasilkan dari area perkebunan kami di Papua pada 2023 dan area replanting di Belitung dan Sumatra Utara I,” kata Direktur Keuangan Austindo Nusantara Jaya, Nopri Pitoy.
Dia juga menambahkan, adanya peningkatan produksi dari perkebunan ANJT yang telah memasuki usia prima, terutama dari perkebunan di Kalimantan dan area Sumatra Utara II. Nopri mengatakan, kenaikan produksi juga diikuti dengan program perawatan perkebunan untuk menjaga produktivitas, seperti Drip Fertigation, Composting dan Assisted Pollination. Sampai akhir 2022, jumlah area tertanam perkebunan inti ANJT mencapai 49.941 hektare (ha). Luas tersebut lebih rendah daripada akhir 2021 yang mencapai 50.041 ha.
Meski demikian, area perkebunan inti dengan usia produktif bertambah menjadi 41.648 ha pada Desember 2022, dari 40.271 ha pada akhir 2021. Terlepas dari luas area tertanam dan menghasilkan yang turun pada 2022, produksi ANJT memperlihatkan kenaikan. Produksi CPO mencapai 275.769 ton sepanjang 2022, dari 262.683 ton pada 2021. Kenaikan itu merefleksikan pertumbuhan 4,98% secara tahunan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.