Berkaitan dengan hal ini, dalam pemaparannya Prof. Rhenald menghubungkan kasus-kasus yang sedang terjadi di Amerika akhir-akhir ini. Di mana dia menghubungkan salah satunya dengan kejadian yang dialami Elon Musk. Di mana Elon Musk sang tokoh Tesla baru-baru ini baru saja dikeluarkan dari S&P.
"Elon musk kita ketahui adalah tokoh yang sangat dipercaya yang sekarang telah memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk membeli kendaraan yang tidak merusak lingkungan. Oleh karena itu, banyak orang membeli karena mobilnya bagus sekali. Ternyata yang kemudian terjadi adalah dia dikeluarkan dari S&P padahal dia sebelumnya sudah masuk dalam rating global company yang dianggap sangat patuh pada ESG," terang Rhenald.
Dalam hal ini, Elon Musk mengeluh dan marah karena justru pesaingnya dianggap merusak ESG malah masuk ke dalam daftar top 10 tersebut.
"Marahlah Elon Musk, dia mengatakan ESG adalah penipuan. Menurut saya jawabannya simpel sekali karena ini bukan aspek E (Environment) semata-mata tapi juga Social dan Governance, dianggapnya Elon Musk sering bicara sembarangan, sahamnya bisa bergerak sendiri, tiba-tiba naik tiba-tiba bisa turun," ujarnya.
Menurut Rhenald, ini tak lain dari beberapa branding buruk yang didapatkan oleh Elon Musk, seperti dalam hal menciptakan kondisi kerja yang tidak begitu baik di perusahaannya hingga adanya diskriminasi rasial.
"Tapi elon musk cukup marah jadi kasus seperti ini akan terjadi sebetulnya, karena standarnya belum banyak dipahami. Standarnya bisa tiba-tiba diubah beberapa elemen”nya oleh lembaga rating karena mereka mendapatkan tekanan atau sebagainya. Terjadi pada perusahaan, tapi pemerintah daerah , negara bagian mereka yg penduduknya/masyarakatnya ternyata melakukan investasi pada bidang-bidang yang harus dikeluarkan dalam ESG," paparnya.
Untuk itu, Prof Rhenald pun mengatakan bahwa pengetahuan akan ESG ini sangat perlu dipahami. Pasalnya basic idea dari ESG pun sangat brilian dan sangat baik yang tentunya ini perlu dijaga Governance dari lembaga rating-rating.
"Kita harus paham lembaga (rating ESG) dan bagaimana ESG diterapkan. Badan pengawas pasar di Amerika pun telah melakukan amandemen terhadap ketentuan ESG ternyata tak lain karena keributan-keributan sudah terjadi," tandasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.