Kondisi ini menjadi peluang emas bagi sebuah pabrik di kota Tome di utara Jepang, di mana volume penjualan shimogoe naik setiap tahunnya hingga mencapai 160 persen pada Maret 2023. Tahun ini menjadi pertama kalinya pupuk kotoran manusia produksi pabrik Tome ludes terjual sejak mereka beroperasi pada tahun 2010.
“Pupuk kami populer karena harganya murah, sehingga membantu para petani memangkas biaya [dari pupuk kimia] yang harganya melonjak,” ungkap wakil direktur pabrik Tome Toshiaki Kato kepada AFP. “Pupuk kami juga ramah lingkungan,” lanjutnya.
Terbuat dari kombinasi residu limbah cair dari tangki septik dan kotoran manusia dari tangki pembuangan bawah tanah, pupuk feses dibandrol dengan harga 160 yen (sekitar Rp17.000) per 15 kilogram. Angka tersebut hanya sekitar sepersepuluh dari harga pupuk yang terbuat dari bahan baku impor.
Para pegawai pabrik di kota Saga, barat daya Jepang, juga melaporkan bahwa penjualan pupuk feses produksi mereka naik hingga dua atau tiga kali lipat dari biasanya.
Menurut spesialis pupuk Arata Kobayashi, shimogoe adalah pupuk utama yang digunakan pada zaman Edo di Jepang. Pada awal abad ke-18, satu juta penduduk Tokyo—yang dulu bernama Edo—“menghasilkan” sekitar 500.000 ton pupuk kotoran manusia per tahun.
Pengolahan pupuk kotoran manusia kala itu adalah sebuah bisnis besar yang melibatkan pengumpul, pengangkut, dan petani, “dan mereka semua mendapat manfaat dari sistem itu. Mereka menciptakan proses daur ulang kotoran manusia menjadi pupuk secara tidak sengaja. Pupuk itu adalah hasil usaha pihak-pihak yang cenderung ingin mengejar keuntungan,” kata Kobayashi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.