Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Fakta Longspan LRT Jabodebek yang Disebut Salah Desain Kini Tak Lagi Jadi Masalah

Himayatul Azizah , Jurnalis-Sabtu, 12 Agustus 2023 |07:06 WIB
5 Fakta Longspan LRT Jabodebek yang Disebut Salah Desain Kini Tak Lagi Jadi Masalah
Fakta Longspan LRT Jabodebek Dinilai Salah Desain. (Foto :Okezone.com/Antara)
A
A
A

JAKARTA - Lengkungan Bentang Panjang (Longspan) Lintasan Rel Terpadu (LRT) Jabodebek sempat menjadi perbincangan sebab dinilai salah desain.

PT Adhi Karya Tbk sebagai kontraktor LRT dianggap tidak teliti dalam pengecekan terkait kemiringan rel setelah longspan dibangun khususnya di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan bahwa isu salah desain longspan telah dibereskan. Hal tersebut dilihat dari perbincangan terkait longspan sudah berangsur tidak ada.

Berikut fakta longspan LRT Jabodebek yang disebut salah desain kini sudah dibereskan, melalui rangkuman Okezone.

1. Siapa Perancang Longspan LRT Jabodebek

Terdapat tiga konsultan yang terlibat dalam desain longspan LRT Jabodebek, di antaranya berasal dari Perancis, Systra. Namun, mega proyek transportasi massal ini harus dipercepat, sehingga pemerintah memberikan kepercayaan kepada sosok Arvila Delitriana, konsultan Indonesia lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Waktu saya masuk, LRT Jabodebek itu punya beberapa konsultan perencana. Ada dari Perancis, ITB dan ITS. Karena sudah ada tiga konsultan, namun karena proyek ini butuh percepatan, masuklah saya lewat Pak Ujang ini yang kebetulan Pimpinan proyek (Project Manager),” ujar Arvilla.

2. Beragam Opsi Desain LRT Jabodebek

Lewat perusahaan konsultan PT Cipta Graha Abadi, Arvila mulai menangani perhitungan desain yang sudah tersedia dari Systra sebelumnya. Dari situ, sudah ada tiga opsi yang akan direncanakan dan semuanya memanfaatkan Pier atau tiang di tengah lengkungan.

LRT

Arvila selaku perancang LRT Jabodebek sempat memberikan opsi keempat yakni desain tanpa Pier atau tiang di tengah lengkungan. Namun opsi tersebut justru tidak disambut baik oleh konsultan Jepang. Desain tanpa Pier dinilai mustahil dan sulit dikerjakan, apabila bisa disambung tanpa tiang pun, kontraktor Adhi Karya tidak akan bisa.

Penggunakan Pier atau tiang di tengah lengkung sepanjang 148 meter dibantah Arvila sebab di bawah jembatan lengkung terdapat dua ruas jalan yang saling berhimpitan, tepatnya Jalan Gatot Subroto dan Jalan Tol Layang. Arvila juga mengatakan jika dibangun pondasi untuk Pier nantinya akan rawan getaran apabila ada gempa keci, maka dari itu Arvila yakin membangun tanpa tiang di tengah dengan perhitungan yang tepat.

Arvila melawan argumen dari konsultan Jepang terkait desain tanpa Pier atau tiang di tengah lengkungan. Hingga akhirnya bentangan bisa dipasang tanpa tiang dengan perhitungan matang dan berjalan sesuai rencana.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement