Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waduh! Ada Daerah Manipulasi Data Stunting untuk Dapat Insentif

Ikhsan Permana , Jurnalis-Senin, 09 Oktober 2023 |15:29 WIB
Waduh! Ada Daerah Manipulasi Data Stunting untuk Dapat Insentif
Menteri Suharso buka suara soal dugaan dana stunting daerah. (Foto: MPI)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan ada sejumlan kepala daerah yang menghitung data stunting dengan cara yang tidak benar sehingga menghasilkan data keliru.

Menurut Suharso hal tersebut dilakukan agar bisa mendapatkan keuntungan atau insentif dari pemerintan pusat.

 BACA JUGA:

"Salah satunya itu bupati temannya pak Amir (Wakil Ketua Komisi XI DPR RI) yang memberikan data itu. Jadi datanya begini, terus dia langsung dengan bangga bilang dari 30an (persen) menjadi 8%," kata Suharso dalam acara Sosialisasi RPJPN 2025-2045 dan RPJMN Teknokratik 2025-2029 Kepada Partai Politik di Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (9/10/2023).

Suharso menegaskan, jika dihitung dengan benar, penurunan angka stunting dalam waktu 2 atau 3 tahun tidak akan terlampau jauh.

"Ini enggak mudeng. Kalau orang yang berhitung enggak mungkin dalam waktu 2-3 tahun bisa loncat seperti itu, enggak mungkin, enggak masuk akal, hanya karena supaya bisa mendapatkan benefit dari pemerintah pusat," ujarnya.

Suharso membongkar cara pemerintah daerah mengakali data stunting.

Dia menyebut banyak Pemda yang melakukan pengelompokkan dalam usia tertentu kemudian jika sudah melewatu batas tersebut pemda mengeluarkannya tanpa melihat kondisi balitanya terlebih dahulu.

"Sering teman-teman di daerah itu menghitung stunting keliru. Ketika seorang bayi, balita, begitu di atas 5 tahun karena dia sudah dianggap 5 tahun plus satu hari, meskipun dia masih stunting, keluar dia dari cakupan yang terkena stunting. Berkurang jumlahnya," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement