JAKARTA – Penyebab lifting minyak dan gas bumi pada 2023 tidak mencapai target yang telah ditentukan. Seperti diketahui, lifting minyak pada 2023 hanya mencapai 605 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam APBN sebesar 630 ribu barel minyak per hari.
"Kita di tahun 223 bisa menahan produksi kita diatas 600 ribu barel, capaiannya 605 ribu barel. Memang ini tren penurunannya disebabkan kita belum memiliki sumber-sumber sumur baru yang bisa memberikan tambahan produksi baru daripada minyak mentah," terang Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam konferensi pers Capaian Sektor ESDM Tahun 2023 dan Program Kerja Tahun 2024 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (14/1/2024).
Namun demikian dikatakan Arifin, pada 2024, pihaknya memiliki beberapa program yang tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan namun juga meningkatkan produksi.
Salah satunya yaitu melakukan pemanfaatan dari sumur-sumur hydro yang selama ini tidak diupayakan lagi namun masih memiliki potensi. Ia bilang, dirinya pun telah menargetkan bahwa dalam kuartal I 2024 program-program untuk memberdayakan sumur-sumur tersebut sudah ada dan dapat segera diluncurkan.
"Nah kemudian juga upaya-upaya untuk bisa melakukan optimalisasi dari lifting dengan menggunakan metode waterflood maupun dengan chemical itu kita dorong dan tentu saja untuk mengupayakan ini kita harus juga memikirkan kebijakan-kebijakan baru yg akan kita terapkan," tutur Arifin.
Lebih lanjut, Arifin juga mengakui bahwa tren penurunan juga terjaid di sektor gas karena adanya indikasi kelandaian. Sebagaimana diketahui, realisasi lifting gas pada 2023 mencapai 964 ribu BOEPD atau lebih rendah dari asumsi 1,1 juta BOEPD.