Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kebijakan FCA Bisa Bikin Investor Bergejolak, Ini Penjelasannya

Kristalensi Bunga Nauli Sihite , Jurnalis-Kamis, 13 Juni 2024 |11:40 WIB
Kebijakan FCA Bisa Bikin Investor Bergejolak, Ini Penjelasannya
Kebijakan FCA Bikin Investor Bergejolak (Foto: Okezone).
A
A
A

JAKARTA – Para investor merespons soal mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK). Para investor saat ini kerap mengevaluasi kebijakan tersebut.

Mereka menilai bahwa kebijakan yang telah ditetapkan tersebut cukup membingungkan. Tidak hanya itu, para investor juga sulit untuk memberi kepercayaan kepada emiten yang turut mengerek nilai indeks saham.

Pengamat Pasar Modal, Kartika Sutandi menyebutkan bahwa kondisi likuiditas yang semakin mengering membuat nasib para investor bergejolak.

“Menurut saya sih lagi tak baik-baik saja, kita paling concern tuh sama likuiditas. Menurut saya tuh likuiditas sekarang ini mengering kalau dari data yang kita kumpulin,” ujarnya dalam Special Dialog iNews TV, dikutip Kamis (13/6/2024).

Kartika menambahkan bahwa persentase tingkat likuiditas di kalangan domestik mengalami penurunan sekitar 2% sedangkan saham yang termasuk ke dalam FCA mengalami penurunan tingkat persentase lebih dari 50%.

“Kita worried, ya, karena dengan likuiditas nggak ada itu berarti risiko tambah tinggi, kalau risiko tambah tinggi berarti required rate yang kita minta itu lebih tinggi. Otomatis harga sahamnya tambah turun. FCA juga nggak kelihatan bid offer,” tuturnya.

Dengan kondisi seperti ini, para investor berharap agar BEI dapat terbuka dan transparan. Komunikasi dan evaluasi yang transparan menjadi suatu hal yang esensial agar dapat kembali menstabilkan pasar saham, serta memulihkan kepercayaan para investor.

“Bursa tuh harus transparan. Kalau nggak ada transparansi lagi-lagi risikonya naik. Banyak regulasi yang mereduce transparansi Bursa Efek Indonesia. Satu, kode broker dihilangin. Dua, flow asing dihilangin. Ketiga, FCA bid offer nggak kelihatan,” jelas Kartika.

Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi yang juga turut diikuti dengan required ratenya yang kian menaik membuat para investor semakin bergejolak dengan penerapan kebijakan terbaru ini.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement