Nuha menekankan bahwa fakta yang terjadi saat ini sangat memprihatinkan, mengingat Negara Indonesia memiliki kekayaan alam laut yang melimpah yang seharusnya sumber protein bisa dengan mudah diakses. Ia juga heran dengan sumber daya alam yang melimpah masih saja terdapat defisit protein yang sangat jauh di Negara ini. Menurutnya, situasi ini menunjukkan adanya masalah mendasar yang perlu segera diatasi untuk memastikan masyarakat Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup guna mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Jika kita perhatikan, Ikan yang merupakan komoditas lokal, memiliki komponen gizi yang sangat baik, dan dapat berfungsi sebagai komplemen bahan pangan lain untuk pencukupan gizi masyarakat. Ikan segar ideal untuk dikonsumsi langsung bila logistik mendukung. Dengan berbagai jenis ikan, seperti ikan selar, petek, lemuru, tetelan kakap, dan ikan kuniran dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat susu ikan.
Istilah ‘susu ikan’ yang sudah beredar di masyarakat seolah-olah memberikan kesan bahwa ikan menghasilkan cairan seperti susu, padahal produk tersebut pada realitanya merupakan sebuah bubuk dari hasil olahan ikan yang nantinya bisa digunakan sebagai sumber protein. Hal ini sangat penting untuk diluruskan kepada masyarakat agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman mengenai produk yang akan mereka konsumsi.
Bubuk ikan atau fish powder ini dikembangkan oleh sebuah NGO yang bernama Berikan Protein Initiative. NGO ini bergerak ke arah peningkatan awareness masyarakat akan sebuah inovasi yang bisa mendorong kecukupan protein masyarakat Indonesia. Untuk memperkenalkan produk inovasi ini membutuhkan waktu tujuh tahun dengan menggandeng banyak ahli agar bisa menghadirkan solusi atas kurangnya gizi masyarakat Indonesia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.