Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Aksi Buyback Saham BMRI Jadi Angin Segar Bagi Investor

Feby Novalius , Jurnalis-Sabtu, 29 November 2025 |10:11 WIB
Aksi Buyback Saham BMRI Jadi Angin Segar Bagi Investor
Sentimen positif terhadap emiten perbankan pelat merah. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA — Rencana aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) yang dilakukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai menjadi angin segar bagi investor.

Menurut Analis Pasar Modal Frederik Rasali, langkah tersebut memiliki potensi besar memperkuat sentimen positif terhadap emiten perbankan pelat merah tersebut. Harga saham Bank Mandiri saat ini masih berada pada valuasi yang cukup rendah.

Dengan rasio price to book value (PBV) sebesar 1,57 kali, valuasi saham BMRI tercatat berada di bawah minus satu standar deviasi selama lima tahun terakhir.

“Artinya, saham Bank Mandiri sudah cukup terdiskon. Valuasi yang sama ini juga pernah terjadi pada akhir 2021, saat bursa terdampak pandemi Covid-19,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Frederik menjelaskan, fungsi utama dari aksi buyback saham ini adalah untuk mengakomodasi program Employee Stock Ownership Plan (ESOP) yang tengah berjalan. Dengan mekanisme tersebut, apabila saham ESOP dieksekusi dan kemudian dijual, perseroan dapat langsung membelinya kembali.

“Namun, terlepas dari fungsi itu, kepercayaan investor terhadap saham BMRI tentu juga meningkat,” katanya.

Lebih lanjut, Frederik menilai pergerakan saham BMRI selama satu tahun terakhir memang menunjukkan tren menurun, seiring tantangan yang dihadapi sektor perbankan sepanjang 2025 akibat tekanan kondisi ekonomi nasional.

“Setelah ekonomi lebih stabil, buyback saham dapat menjadi sinyal positif bagi investor untuk kembali mempercayai kinerja Bank Mandiri,” ujarnya.

 

Meski demikian, Frederik menilai dampak psikologis dari aksi ini cenderung bersifat sementara. “Pada akhirnya, investor akan tetap menilai dari sisi fundamental perusahaan, bukan semata pergerakan harga jangka pendek,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan besaran dana dan harga pelaksanaan buyback, karena kedua faktor itu akan menentukan jumlah lembar saham yang dapat dibeli kembali. Pengurangan jumlah saham beredar nantinya berdampak langsung terhadap peningkatan laba per saham (earnings per share/EPS).

“Apabila menggunakan asumsi harga penutupan 10 November 2025 di level Rp4.730 per lembar, maka Bank Mandiri diperkirakan akan melakukan buyback sebanyak 245,24 juta lembar saham. Dampaknya, EPS kuartal III/2025 bisa meningkat dari 142,23 menjadi 156, atau naik sekitar 9,69 persen,” jelas Frederik.

(Feby Novalius)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement