"Dan secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi di wilayah tersebut, seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras," ungkap Pudji.
Kemudian, Sumatera Utara didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta inflasi di Sumatera Barat yang utamanya didorong oleh bawang merah.
Kondisi anomali cuaca sepanjang tahun 2025, di mana awal musim kemarau mengalami kemunduran, memperburuk risiko gangguan produksi tanaman pangan.
BPS mencatat inflasi nasional pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen secara bulanan (month-to-month), dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,22 menjadi 109,92.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi akhir tahun 2025 tercatat sebesar 2,92 persen. Kenaikan harga pada komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi motor utama inflasi nasional dengan andil sebesar 0,45 persen.
"Inflasi Desember 2025 yang sebesar 0,64 persen utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 2,74 persen dan komponen ini memberikan andil inflasi terbesar yaitu sebesar 0,45 persen," tambah Pudji.
Selain komoditas pangan seperti cabai rawit dan daging ayam ras, komponen harga yang diatur pemerintah seperti bensin dan tarif angkutan udara juga turut berkontribusi terhadap inflasi akhir tahun, seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat di tengah kondisi cuaca yang menantang.
(Taufik Fajar)