Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

6 Fakta Rupiah Dekati Rp17.000 per USD, Purbaya Turun Tangan hingga Isu Deputi Gubernur BI

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 26 Januari 2026 |08:08 WIB
6 Fakta Rupiah Dekati Rp17.000 per USD, Purbaya Turun Tangan hingga Isu Deputi Gubernur BI
6 Fakta Rupiah Dekati Rp17.000 per USD, Purbaya Turun Tangan hingga Isu Deputi Gubernur BI (Foto: Okezone)
A
A
A

3. Gubernur BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar Rupiah pada 20 Januari 2026 mencapai Rp16.945 per dolar AS atau melemah 1,53% (point to point/ptp) dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, kenaikan permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan aktivitas ekonomi turut memengaruhi kinerja Rupiah.

"Juga ada faktor-faktor domestik. Tentu saja, tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena adanya kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara, serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).

Selain faktor domestik, Perry menyebut faktor global turut memengaruhi pelemahan nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan global meningkat, terutama dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik. 

Perkembangan ini mengakibatkan tertahannya aliran modal ke emerging market (EM) dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS (DXY) terhadap mata uang negara maju.

"Seperti tadi kami sampaikan, faktor-faktor global itu terkait kondisi global, baik karena geopolitik maupun kebijakan tarif Amerika Serikat. Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury, baik tenor dua tahun maupun tiga tahun, serta kemungkinan penurunan Fed Funds Rate yang lebih kecil," tambahnya.

Perry mengatakan nilai tukar Rupiah diprakirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

"Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan membawanya untuk menguat, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi yang membaik," pungkasnya.

4. Istana Buka Suara

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menekankan bahwa strategi utama pemerintah untuk menjaga dan memperkuat nilai tukar Rupiah adalah dengan memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kuat.
 
“Secara khusus yang paling penting adalah bagaimana kemudian kita memastikan bahwa fundamental ekonomi kita itu kuat. Kemudian sektor-sektor riil bagaimana didorong untuk itu tumbuh dan berkembang. Karena kuncinya di situ, kuncinya adalah di fundamental ekonomi kita, di sektor riil kita,” ujar Prasetyo kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Prasetyo mengatakan bahwa pemerintah menilai percepatan dan efektivitas belanja negara dapat berperan sebagai stimulus ekonomi yang turut menopang stabilitas makroekonomi, termasuk nilai tukar Rupiah.

“Kemudian di awal tahun, seperti biasa, government spending kita juga kemarin salah satu yang dibahas karena kita menghendaki di awal tahun belanja pemerintah juga sudah bisa optimum. Karena ini bagian dari salah satu stimulus ekonomi,” jelasnya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement