“Maka kita harus mempergunakan apa yang kita miliki, yaitu energi nabati. Etanol adalah bagian terpenting dalam rangka melakukan substitusi terhadap crude. Ini bicara tentang kemandirian,” katanya.
Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan, konsumsi BBM nasional per tahun mencapai 39–40 juta kiloliter, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 14 juta kiloliter. Dengan demikian, pada 2025 pemerintah masih harus mengimpor bensin hingga 25 juta kiloliter.
Bahlil menambahkan, kehadiran Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan mampu menambah pasokan BBM nasional hingga 5,8 juta kiloliter. Dengan begitu, impor BBM diproyeksikan berkurang menjadi sekitar 19 juta kiloliter pada 2026.