"Intinya kami kawal terus upaya untuk melakukan restrukturisasi keuangan terkait dengan kereta cepat Jakarta-Bandung atau KCIC yang kita kenal ini terus kami kawal. Intinya kami ingin terus cari solusi yang terbaik ini masih butuh proses butuh waktu dan kami tentu akan berkomunikasi dengan pihak Tiongkok semangatnya semua adalah mencari solusi," tuturnya.
Adapun, sejak digarap 2016, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) mengalami pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar USD1,2 miliar atau sekitar Rp18,02 triliun. Hasil audit yang dilakukan Indonesia dan China membukukan total biaya pembangunan Whoosh tembus menjadi USD7,27 miliar atau sekitar Rp 118,21 triliun.
Dari jumlah pinjaman tersebut, sebesar 75 persen-nya dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB), dengan bunga sebesar 2 persen per tahun. Utang pembangunan Whoosh dicairkan dengan skema bunga tetap selama 40 tahun di awal.
(Taufik Fajar)