Dian menekankan bahwa bank tidak akan membiarkan dana tersebut mengendap begitu saja. Jika permintaan kredit meningkat, bank akan segera mencairkan investasi SBN mereka.
“Jadi tentu saja bank itu kalau misalnya demand-nya sudah cukup tinggi nanti tidak akan lagi dipakai itu. Ya mungkin itu dicairkan kan gitu. Nah jadi memang kalau temporary nggak ada masalah kalau menurut saya. Itu kan ada upaya bank, bank tidak boleh menganggurkan uangnya kan,” jelas Dian.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penambahan dana ini bertujuan untuk mengatasi kondisi likuiditas perbankan yang mulai mengetat akibat kenaikan yield obligasi pemerintah. Pembelian SBN oleh bank diharapkan mampu menstabilkan pasar surat utang.
“Pasti bank kan nyariin yang paling gampang. BI atau beli bond, dia bisa beli bond loh. Kalau beli bond akan neken yield ke bawah lagi. Kira-kira itu. Tapi tentunya Rp100 triliun nggak seberapa ya. Paling nggak membuat yield naik gila-gilaan atau bunga naik kenceng ke atas,” ucap Purbaya.
Mengenai rincian pembagiannya, Purbaya menyebutkan bahwa penempatannya bersifat fleksibel, salah satunya mencakup Bank Jakarta.
“Ini agak beda. Penempatannya fleksibel. Itu saya lupa bagiannya, tapi Bank DKI (Bank Jakarta) aja dapat Rp2 triliun kalau nggak salah,” kata dia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.