Durham, petani sawit asal Desa Muara Pias, Long Kali, Paser, yang juga menjadi peserta mengaku selama ini menghadapi berbagai kendala dalam budidaya kelapa sawit akibat keterbatasan pengetahuan. Mulai dari persoalan bibit yang tidak sesuai harapan, serangan hama di awal tanam, hingga tanaman yang tidak berbuah tanpa diketahui penyebab pastinya.
"Kendala di lapangan memang banyak, terutama soal bibit dan hama. Dulu kami bekerja berdasarkan kebiasaan saja, jadi ketika ada tanaman yang tidak berbuah, kami tidak tahu apakah itu karena bibit atau cara perawatannya. Setelah ikut pelatihan Perkasa, kami jadi paham sistem dan praktik yang benar. Ilmu ini sangat membantu untuk memperbaiki pengelolaan kebun agar hasilnya bisa lebih baik,” ujar Durham.
Guna mengoptimalkan hasil pelatihan, perusahaan juga melakukan monitoring pasca pelatihan secara berkala. Tujuannya untuk memastikan para petani benar-benar menerapkan ilmu yang didapat di kebun masing-masing. Pendampingan berkelanjutan ini menjadi kunci agar transformasi cara bertani tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menjadi standar baru bagi produktivitas mereka.
“Selama ini para petani sawit hanya mengandalkan pengalaman otodidak dan hasil panennya kurang memuaskan. Buku ini sangat membantu kami untuk terus memperbaiki cara pengelolaan kebun yang baik dan benar agar hasil panennya juga semakin optimal,” ungkap Feidy Rogi, peserta pelatihan Perkasa dari Desa Gunung Rampah, Mook Manaar Bulatn, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Melalui Perkasa, perubahan mulai tumbuh dari kebun-kebun rakyat, dari cara berpikir hingga praktik di lapangan. Ketika pengetahuan bertemu dengan kemauan untuk belajar, petani tidak lagi sekadar bekerja berdasarkan kebiasaan, melainkan melangkah sebagai pelaku usaha yang terampil dan berdaya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.