Pendekatan berbasis nilai juga mulai didorong di tengah tekanan terhadap stok ikan. Indonesia Tuna Consortium Lead Thilma Komaling menyebut sekitar 40–50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara optimal meski memiliki potensi ekonomi tinggi.
“Dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, di mana setiap ikan dimanfaatkan secara optimal,” ujar Thilma.
Transformasi industri turut ditopang pemanfaatan teknologi dan data. Shinta Yuniarta dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara mengatakan penggunaan sistem digital dan kecerdasan buatan memungkinkan pengumpulan data perikanan secara lebih akurat dan real-time.
“Hal ini penting untuk memastikan pengelolaan stok ikan yang berkelanjutan sekaligus mendukung transparansi dalam rantai pasok,” jelasnya.
Selain itu, pengembangan produk turunan seperti kolagen, gelatin, dan biopeptida dinilai dapat meningkatkan nilai tambah dibandingkan produk segar atau beku. Science Advisor Tuna Consortium Budy Wiryawan menekankan pentingnya riset dalam mendukung transformasi tersebut.
“Dengan inovasi dan riset, kita dapat memperluas pemanfaatan tuna jauh melampaui konsumsi pangan. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan,” katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.