Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Taruhan Besar Hilirisasi Batu Bara: Menuju Kedaulatan Energi

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 07 Mei 2026 |15:42 WIB
Taruhan Besar Hilirisasi Batu Bara: Menuju Kedaulatan Energi
Taruhan Besar Hilirisasi Batu Bara: Menuju Kedaulatan Energi (Foto: PTBA)
A
A
A

Batu Bara Kembali Strategis di Tengah Geopolitik Global

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kembali dihadapkan pada krisis energi akibat konflik geopolitik, gangguan distribusi LNG, hingga lonjakan harga minyak dan gas. Pada 2026, harga batu bara global bahkan kembali melampaui USD140 per ton akibat terganggunya rantai pasok energi internasional.

Kondisi tersebut membuat banyak negara Asia kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga stabilitas listrik domestik. Batu bara pun kembali dipandang sebagai “bantalan energi” di tengah tingginya volatilitas energi fosil lainnya.

Di saat yang sama, Indonesia justru memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen batu bara terbesar dunia. Produksi nasional yang hanya sekitar 456 juta ton pada 2016 melonjak hingga mencetak rekor 836 juta ton pada 2024. Pada 2025, produksi tetap tinggi di kisaran 790 juta ton. Namun besarnya produksi tersebut memunculkan tantangan baru. Sekitar 65% produksi batu bara nasional masih diekspor, sementara kebutuhan domestik terus meningkat untuk listrik, smelter, semen, pupuk, dan industri strategis lainnya.

Situasi inilah yang membuat hilirisasi menjadi agenda penting. Pemerintah tidak lagi hanya ingin menjual batu bara mentah, tetapi mendorong transformasi batu bara menjadi produk industri dengan nilai tambah lebih tinggi.

Melalui PTBA, MIND ID tidak hanya memperkuat produksi batu bara, tetapi juga membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada 2025, PTBA mencatatkan produksi sekitar 47,2 juta ton dan menargetkan peningkatan hingga 100 juta ton dalam beberapa tahun ke depan. PTBA memiliki cadangan batu bara sebesar 5,72 miliar ton, dengan sumber daya terbukti sekitar 2,88 miliar ton

Untuk mendukung distribusi nasional, perusahaan juga memperkuat infrastruktur logistik melalui proyek Jalur Angkutan Tanjung Enim–Kramasan yang mencakup pembangunan Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6–7.Proyek tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas angkutan hingga 20 juta ton per tahun sekaligus memperkuat keandalan pasokan batu bara domestik.

Namun transformasi terbesar PTBA justru terjadi di sektor hilirisasi.
Selain DME, PTBA mulai mengembangkan batu bara menjadi artificial graphite, bahan utama anoda baterai kendaraan listrik. Material graphite bahkan menjadi komponen terbesar dalam baterai EV dengan kebutuhan mencapai 40–80 kilogram per kendaraan.

Pengembangan artificial graphite membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku baterai sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. 

Tak hanya itu, PTBA juga mengembangkan hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi kalium humat untuk sektor pertanian. Produk ini berfungsi meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pupuk. Hasil implementasi di lahan sawah menunjukkan produktivitas panen meningkat dari 3,5 ton menjadi 4,5 ton pada lahan seluas 0,8 hektare. Hilirisasi batu bara pun tidak lagi sekadar berbicara energi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional.

Hilirisasi Batu Bara
Hilirisasi Batu Bara
 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement