Meski memiliki potensi besar, hilirisasi batu bara tetap menghadapi berbagai tantangan struktural. Salah satu tantangan utama adalah penguasaan teknologi.
Karena itu, PTBA membuka peluang kerja sama dengan mitra teknologi asing untuk pengembangan proyek DME. Skema ini dinilai penting agar Indonesia dapat mempercepat pembangunan industri hilir sekaligus memperoleh transfer teknologi.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan regulasi yang mendukung stabilitas pasokan dan harga batu bara domestik. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) menjadi instrumen penting agar kebutuhan industri hilirisasi tidak terganggu fluktuasi pasar ekspor.
Pengelolaan produksi batu bara pun kini semakin dinamis. Pemerintah sempat berencana memangkas produksi menjadi 600 juta ton pada awal 2026 untuk menjaga harga global. Namun, kebijakan itu direvisi setelah kenaikan harga energi dunia mendorong pemerintah meningkatkan kembali produksi demi menjaga penerimaan negara dan ketahanan energi nasional.
Dalam kerangka Net Zero Emission 2060, batu bara memang tidak akan selamanya menjadi sumber energi utama. Namun dalam jangka menengah, batu bara masih akan memainkan peran strategis sebagai energi transisi dan bahan baku industri.
Indonesia kini berada pada momentum penting untuk menentukan arah masa depan sumber daya alamnya. Hilirisasi menjadi jalan agar batu bara tidak hanya habis dibakar, tetapi diolah menjadi energi alternatif, bahan baku baterai kendaraan listrik, produk pertanian, hingga industri kimia bernilai tinggi.
Melalui peran strategis MIND ID dan PTBA, hilirisasi batu bara bukan lagi sekadar agenda industri tambang, melainkan bagian dari strategi besar membangun kemandirian energi, memperkuat industri nasional, dan menciptakan nilai tambah bagi masa depan Indonesia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.