Guna meredam kekhawatiran pasar atas pergerakan nilai tukar dolar AS yang bertengger di level Rp17.600-an, Purbaya meminta masyarakat tidak panik. Ia memastikan fundamental ekonomi dan kesehatan APBN Indonesia dalam kondisi baik.
Secara khusus, Purbaya membantah analisis dari sejumlah pengamat dan media asing seperti The Economist yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia rapuh karena hanya ditopang oleh belanja pemerintah (government spending).
Purbaya kemudian memaparkan rincian kontribusi pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I-2026 yang tumbuh di level 5,6 persen.
"Kalau kita lihat dengan pangsanya, sebenarnya kalau lihat dari 5,6 itu, mungkin 2,9 dari belanja konsumen, 1,7 dari investasi, 1,3 itu dari belanja pemerintah. Jumlahnya nanti ke arah 6 sana, ada juga ekspor-impor ya. Jadi gitu caranya. Jadi yang masih mendrive dan memberi kontribusi terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir," urai Purbaya.
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia kini lebih seimbang. Reformasi struktural yang diinisiasi Presiden Prabowo dinilai mulai mengaktifkan kembali peran sektor swasta nasional sebelum terjadinya guncangan ekonomi global (negative shock).