“Artinya, prospeknya jauh lebih bagus dibanding tahun lalu ketika kondisinya masih berat. Tahun lalu pertumbuhan pajak masih turun,” ungkap Purbaya.
Purbaya juga meluruskan persepsi pasar mengenai capaian surplus pada keseimbangan primer yang menyentuh Rp28 triliun. Ia menegaskan surplus tersebut berasal dari peningkatan pendapatan, bukan karena efisiensi atau penahanan belanja.
Faktanya, belanja pemerintah pusat justru terealisasi sebesar Rp826 triliun atau melonjak 51,1 persen yoy. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah tersalurkan sebesar Rp256,8 triliun kepada pemerintah daerah.
“Primary surplus bukan berarti belanja direm. Belanja tetap dipercepat sampai April tumbuh 34,3 persen yoy. Jadi ini bukan berarti pemerintah mendominasi pertumbuhan ekonomi. Ini hanya satu sisi dari pemerintah, sementara swasta tetap menjadi penggerak utama,” jelas Purbaya.
Dengan demikian, menurut Purbaya, porsi kontribusi langsung belanja negara melalui APBN terhadap total perekonomian nasional berada di bawah level 10 persen. Sebaliknya, sisa roda perekonomian yang porsinya di atas 90 persen digerakkan oleh aktivitas usaha dan investasi dari sektor swasta.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.