JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan sangat bergantung pada kemampuan otoritas moneter menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memulihkan kepercayaan investor internasional. Faktor-faktor fundamental tersebut menjadi jangkar krusial setelah pasar saham domestik mengalami tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menegaskan bahwa merosotnya indeks dan keluarnya modal asing dari pasar saham dalam negeri dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari sisi global, pelaku pasar keuangan tengah mencermati perkembangan eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan indikasi mulai mereda seiring munculnya draf Memorandum of Understanding (MoU) terkait rencana gencatan senjata selama 60 hari yang saat ini masih menunggu keputusan Presiden Donald Trump.
"Sentimen tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan sehingga mendorong koreksi harga minyak. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak Brent tercatat turun sekitar 17 persen, sementara harga minyak WTI melemah 17,14 persen," jelas David Kurniawan dalam hasil risetnya, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data perdagangan per Jumat (29/5/2026), IHSG ditutup di level 6.127 atau melemah sekitar 0,52 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Menariknya, sepanjang fase koreksi yang berlangsung sekitar satu bulan terakhir, pasar reguler mencatat aksi pelepasan portofolio yang masif. Arus modal keluar (outflow) investor asing mencapai Rp19,4 triliun selama Mei 2026.
Sebaliknya, tantangan berat justru datang dari domestik berupa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang mendekati level terendah sepanjang masa, yakni di kisaran Rp17.863 per dolar AS berdasarkan kurs ritel BCA per 29 Mei 2026.
Secara tahun berjalan (year to date/YtD), rupiah telah melemah 6,6 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia bersama rupee India dan peso Filipina.
"Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan Kuartal I 2026 sebesar USD4 miliar atau 1,09 persen terhadap PDB, permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada Kuartal II, serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," ungkap David.
Memasuki periode transaksi Juni 2026, fokus perhatian pelaku pasar diproyeksikan bergeser dari sentimen rebalancing indeks MSCI menuju efektivitas bauran kebijakan Bank Indonesia. Meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan ke level 5,25 persen untuk meredam gejolak eksternal, pasar masih memantau efektivitas langkah tersebut dalam menekan volatilitas kurs dan menahan arus keluar modal portofolio.
Apabila rupiah mampu menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, persepsi risiko pasar berpotensi membaik. Kondisi tersebut dinilai akan membuka ruang pembalikan arah bagi masuknya kembali aliran dana asing (capital inflow) ke pasar saham maupun obligasi domestik.
Di samping itu, David menambahkan bahwa arah kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap menjadi katalis utama bagi pergerakan aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni.
"Sikap The Fed yang masih cenderung hawkish berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia, dapat memperoleh sentimen positif," pungkas David.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
Buy GGRM (Current Price: 17.000, Entry: 17.000, Target Price: 18.525 atau naik 8,97 persen, Stop Loss: 16.275 atau turun 4,26 persen, dan Risk to Reward Ratio 1:2,1).
Buy MAPI (Current Price: 1.495, Entry: 1.495, Target Price: 1.600 atau naik 7,02 persen, Stop Loss: 1.450 atau turun 3,01 persen, dan Risk to Reward Ratio 1:2,3).
Buy ICBP (Current Price: 7.100, Entry: 7.100, Target Price: 7.525 atau naik 5,99 persen, Stop Loss: 6.875 atau turun 3,17 persen, dan Risk to Reward Ratio 1:1,9).
Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC).
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.