JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin melemah. Rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi terendah sepanjang sejarah sejak krisis moneter 1998.
Mengutip data Bloomberg, Jakarta, Kamis 4 Juni 2026 Rupiah melemah 58,5 poin atau 0,33 persen ke level Rp18.025 per dolar AS.
Berikut fakta-fakta rupiah anjlok Rp18.000 per Dolar AS dirangkum Okezone, Sabtu (6/6/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai dampak melesatnya nilai tukar rupiah yang kini telah melewati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS terhadap beban pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Purbaya mengonfirmasi bahwa sebagian besar instrumen utang negara diterbitkan dengan skema tingkat bunga tetap (fixed rate) atau kupon konstan.
Meski besaran bunga tidak berubah, ia tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar otomatis akan mendongkrak nilai total pembayaran utang saat dikonversikan ke dalam mata uang rupiah.
"Saya lupa. Kuponnya fix, ya? Ya, fix. Harusnya sih fix kuponnya. Tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat ini, kan? Lewat bond, ya? Kuponnya sih constant. Cuman pada waktu rupiah melemah, ya, Meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," jelas Purbaya saat ditemui usai Rapat Paripurna.
Walaupun beban pembayaran utang dalam mata uang domestik meningkat, Bendahara Negara ini mengimbau pasar untuk tidak panik.
Pihaknya memastikan bahwa lonjakan kurs hingga ke level Rp18.000 ini masih berada dalam batas koridor perhitungan dan mitigasi risiko yang telah disiapkan oleh Kementerian Keuangan.
"Cuman kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu," tambahnya.
Ketika didesak mengenai batasan kisaran (range) asumsi yang digunakan pemerintah, Purbaya menerangkan bahwa indikator awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang menggunakan asumsi makro rupiah di level Rp16.500 per dolar AS.
Namun, Kemenkeu telah menjalankan berbagai simulasi dan penyesuaian (adjustment) ketat untuk mengantisipasi gejolak ekonomi eksternal, termasuk dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dunia.
Rupiah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan pola kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah masih dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan menekan prospek perdamaian.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak tetap tinggi serta meningkatkan risiko inflasi global dan arus keluar dana dari negara berkembang (emerging market).
“Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN),” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia memastikan terus memantau pergerakan pasar secara real-time serta mengoptimalkan bauran kebijakan guna menjaga volatilitas rupiah tetap berada dalam batas fundamentalnya.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu, kami juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk ke aset domestik,” kata Destry.
Pimpinan DPR RI menyoroti secara khusus terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Bahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level Rp18.000 per dolar AS per Kamis (4/6/2026).
"DPR merekomendasikan kepada pemerintah terutama Kementerian Keuangan ya untuk segera melakukan konsolidasi fiskal moneter dengan Bank Indonesia," kata Wakil Ketua DPR RI, Cucun Syamsurijal.
Apalagi, kata dia, selama ini Bank Indonesia dari tahun ke tahun kerap melakukan intervensi dengan melakukan operasi moneter ketika terjadi fluktuasi terhadap nilai tukar rupiah.
Menurutnya, operasi ini yang belum terlihat dilakukan oleh Bank Indonesia. Karena itu, DPR mendorong agar operasi moneter ini dilakukan segera mungkin.
"Nah, ini kita belum kelihatan. Kita mempertanyakan," ujarnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.