Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar AS 

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 07 Juni 2026 |11:20 WIB
Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar AS 
Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar AS (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan melemah ke level Rp19.000 per dolar AS. Rupiah masih akan menghadapi badai tekanan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menyatakan, Rupiah bisa saja terjerembab lebih dalam hingga menembus level psikologis baru sebesar Rp19.000 pada akhir Juni 2026 jika spekulasi kenaikan suku bunga The Fed dan konflik global tak kunjung mereda.

"Kemudian untuk Rupiah sendiri dalam satu pekan ke depan itu kemungkinan ditransaksikan di Rp17.950 sampai di Rp18.250. Dan kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini Rupiah kemungkinan besar 99,99 persen itu akan di Rp19.000," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Menurut Ibrahim, pergerakan indeks dolar AS berpotensi mengalami penguatan tajam dalam sepekan ke depan, yang dipicu oleh kombinasi data ekonomi domestik AS yang solid serta ketegangan geopolitik yang kian meruncing.

Secara teknikal, Ibrahim memetakan bahwa indeks mata uang Negeri Paman Sam tersebut akan bergerak kuat di jalur tren naik.

"Mungkin pertama saya lihatin teknikalnya itu terhadap indeks dolar. Indeks dolar ini kemungkinan besar dalam satu pekan ke depan itu akan ditransaksikan di support 99,00, kemudian resisten di 101,00. Artinya apa? Ada kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat tajam. Ada 2 dolar penguatannya dan ini pasti akan berdampak signifikan terhadap naikkan harga minyak, kemudian melemahnya mata uang rupiah, dan melemahnya harga emas dunia dan logam mulia," ungkap dia.

Faktor utama yang menjadi motor penggerak fluktuasi indeks dolar dan harga komoditas global adalah situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian tak terkendali. Menurut Ibrahim, konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran kini tinggal menunggu waktu. Konflik ini pecah menyusul serangan AS terhadap fasilitas radar Iran di Selat Hormuz (Pulau Kesem dan Garuk), yang kemudian dibalas oleh Iran ke pangkalan udara AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Di tengah situasi panas tersebut, langkah politik domestik di AS justru menambah bahan bakar. Meskipun Kongres AS yang dikuasai Partai Republik menolak anggaran perang, Presiden Donald Trump justru mencari celah berbahaya dengan berencana menyita aset-aset milik Iran.

"Artinya apa? Bahwa akal dari Trump ini begitu licik ya anggaran dari pemerintah Amerika ditolak kemudian akan menggunakan anggaran dari Iran. Cara satu-satunya berarti Amerika harus melakukan penyerangan secara besar-besaran untuk menguasai Iran. Ini yang membuat penolakan anggaran oleh Kongres sehingga tidak membuat Trump ini menghentikan perang dengan Iran," kata Ibrahim.

 

Di sisi lain, Israel juga terus melancarkan agresi militer skala penuh dengan menguasai 70 persen Jalur Gaza dan 35 persen wilayah Lebanon Selatan guna menumpas proksi Hamas dan Hizbullah, meski ditentang oleh Dewan Keamanan PBB dan Iran. Penolakan AS terhadap draf perjanjian damai yang memasukkan klausul posisi Lebanon dan Gaza membuat harga minyak dunia dan dolar AS kian melambung tinggi.

Selain Timur Tengah, ketegangan di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina diproyeksikan belum akan mereda hingga akhir tahun 2026, bahkan berpotensi berlanjut hingga tahun 2027-2028. Kehancuran kota Kiev akibat serangan udara Rusia membuat Presiden Volodymyr Zelensky mendesak pertemuan gencatan senjata dengan Vladimir Putin, sementara Ukraina terus membalas dengan menggempur kilang-kilang strategis Rusia.

Melengkapi sentimen negatif bagi rupiah dan emas, kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan tetap bersikap agresif (hawkish). Kondisi ini didukung oleh rilis data tenaga kerja AS pada hari Jumat yang menunjukkan performa di atas ekspektasi pasar.

"Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika sendiri ya kita lihat bahwa data tenaga kerja yang dirilis di hari Jumat ini lebih baik ya lebih bagus dan ini pun juga membuat Bank Sentral Amerika ya kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dan akan menaikkan suku bunga di kuartal ketiga, di kuartal keempat. Ya sebesar 25 basis point. Nah ini yang membuat apa? Membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia," tutup Ibrahim.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement