Senada dengan Mahdi, Nur Aziz, driver Gojek yang bergabung sejak 2017 ini juga menilai sejak kenaikan Pertamax memang ada sedikit penurunan jumlah order.
“Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” katanya.
“Karena itu, menjaga jumlah order tetap tinggi menjadi hal yang sangat penting bagi saya karena pendapatan sebagai mitra driver berpengaruh langsung terhadap ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti sekarang, kami harus terus menjaga performa agar tetap dapat memperoleh pesanan,” katanya.
Sebelum harga Pertamax naik, dia sesekali menggunakan Pertamax atau mencampurnya dengan Pertalite. Namun setelah harga Pertamax naik, biaya peralihan juga meningkat. “Saya merasa tidak lagi sanggup menggunakannya secara rutin sehingga lebih memilih mengantre Pertalite meskipun antrean panjang. Kondisi ini juga berdampak pada performa kendaraan yang saya rasakan tidak sebaik sebelumnya,” katanya.
Nur berharap ada regulasi yang berpihak kepada kesejahteraan mitra driver, termasuk perlindungan seperti asuransi kecelakaan dan jaminan kesehatan. “Buat aplikator, saya berharap semakin banyak program yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mitra sehingga kami dapat terus bekerja dengan lebih tenang dan produktif,” katanya.
Pada 10 Juni, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari Rp12.300 dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.