Strategi yang diterapkan perseroan adalah melakukan penyaringan portofolio secara lebih ketat guna mengawal kualitas aset. Pembiayaan akan diprioritaskan pada sektor-sektor produktif utama yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk mengimbangi fluktuasi biaya dana di pasar akibat kenaikan BI Rate, BNI kian agresif memacu agenda transformasi digital. Langkah efisiensi berbasis teknologi ini dioptimalkan untuk menekan biaya operasional sekaligus menyajikan layanan perbankan yang aman, cepat, dan minim hambatan bagi nasabah.
Akselerasi digital ini juga diiringi dengan komitmen penegakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) serta disiplin manajemen risiko secara menyeluruh. Perseroan secara berkala melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan portofolio kredit dan likuiditas guna mengantisipasi gejolak pasar sejak dini.
“Dengan fokus pada transformasi, penguatan tata kelola, dan pengelolaan risiko yang disiplin, BNI terus berupaya menjaga kinerja yang sehat serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Okki.
Ke depan, BNI berkomitmen untuk terus bersikap adaptif dalam menyelaraskan peta jalan bisnis korporasi dengan arah kebijakan makroekonomi pemerintah serta bank sentral, demi menjamin keberlanjutan pertumbuhan bisnis yang berkualitas tinggi.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.