JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan penguatan menuju level 6.400 pada perdagangan pekan ini. Keseimbangan antara fundamental ekonomi domestik yang kondusif dan ketahanan likuiditas lokal diperkirakan mampu menopang pergerakan indeks dari bayang-bayang tekanan eksternal.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, saat ini IHSG berada dalam fase pullback menuju area pivot 6.150 hingga 6.200. Kondisi ini terjadi setelah breakdown di bawah dynamic resistance MA5 dan MA60, yang sejalan dengan indikator Stochastic RSI yang memasuki area overbought, meski histogram MACD masih menunjukkan sinyal positif.
Menurut Brigita, selama IHSG mampu bertahan di atas area support 6.111 hingga 6.150 dengan batas toleransi strong support pada kisaran 6.000 hingga 6.010 (MA20), maka struktur minor uptrend tetap terjaga sehingga peluang untuk rebound terbuka lebar.
"Apabila IHSG mampu mengakhiri fase konsolidasi dan menembus resistance 6.340, hal tersebut akan mengonfirmasi kelanjutan penguatan menuju target 6.470–6.700 sekaligus menutup gap pada area atas," kata Brigita dalam risetnya, Senin (27/7/2026).
Pada perdagangan pekan sebelumnya (20–24 Juli 2026), IHSG tercatat menguat tipis sebesar 0,34 persen ke posisi 6.196,43. Laju indeks sempat tertahan oleh aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) yang mencapai Rp3,37 triliun dalam sepekan, sehingga akumulasi capital outflow sepanjang 2026 membengkak menjadi Rp79,09 triliun.
Sikap hati-hati pemodal global ini terutama menekan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya di sektor finansial.
Meski demikian, tekanan outflow tersebut berhasil diimbangi oleh penguatan sektor properti dan energi yang terdorong optimisme terhadap kebijakan perumahan pemerintah serta melesatnya harga komoditas.
Selain itu, pergerakan bursa ditopang oleh dominasi investor domestik yang menyumbang 69 persen dari total nilai transaksi harian.
"Kombinasi rotasi sektoral dan kuatnya likuiditas domestik menjaga IHSG tetap stabil di tengah tekanan eksternal, sementara valuasi pasar yang masih relatif atraktif pada PER 12,64x menjadi salah satu faktor yang menopang minat beli secara selektif," tegas Brigita.
Dari global, bursa saham global diproyeksikan masih dibayangi fase konsolidasi. Pelaku pasar cenderung mengambil posisi risk-off dan wait and see menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) AS kuartal II serta hasil pertemuan bank sentral AS (FOMC Meeting) pada 30 Juli mendatang.
Dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan proteksionisme tarif Presiden Donald Trump, ketegangan geopolitik AS-Iran yang sempat mendorong harga minyak Brent ke level USD100 per barel, serta aksi realisasi laba (profit taking) pada saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan serta solidnya pertumbuhan kredit memberikan sinyal positif bagi sektor keuangan.
Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit) dan meningkatkan beban subsidi energi.
Dengan minimnya sentimen baru dari dalam negeri, pergerakan IHSG pekan ini diperkirakan akan sangat bergantung pada dinamika arus modal asing (foreign flow) sebagai respons terhadap keputusan suku bunga The Fed dan arah pergerakan dolar AS.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy EMAS (Entry: 5.975–6.100, Target Price (TP): 6.725, Stop Loss (SL): 5.600).
2. Buy ITMG (Entry: 24.500, Target Price (TP): 26.300, Stop Loss (SL): 23.675).
3. Buy TAPG (Entry: 1.660–1.700, Target Price (TP): 1.880, Stop Loss (SL): 1.550).
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.