JAKARTA - Perubahan perilaku konsumen di era digital mendorong industri kreatif mengadopsi strategi bisnis berbasis data. Pelaku industri kini tidak hanya dituntut menghasilkan ide kreatif, tetapi juga memahami perilaku pasar melalui pemanfaatan teknologi dan analisis data.
Pendekatan berbasis data dinilai menjadi salah satu faktor penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran yang lebih relevan. Melalui pengolahan data, pelaku usaha dapat memahami preferensi konsumen, mengukur efektivitas kampanye, serta menentukan langkah bisnis secara lebih terarah.
CEO Feel Good Network Wisnu Satya Putra mengatakan perkembangan industri pemasaran saat ini menuntut adanya keseimbangan antara kreativitas, strategi, dan pengukuran kinerja.
"Pertumbuhan harus dirancang, bukan sekadar dikejar. Hal ini membutuhkan fondasi brand yang kuat, arah strategis yang jelas, dan kemampuan menerjemahkan ide menjadi momentum yang dapat diukur," ujar Wisnu, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, integrasi antara kreativitas dan data menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri kreatif. Perusahaan perlu memahami bahwa keberhasilan kampanye tidak hanya dilihat dari sisi konsep, tetapi juga dari dampaknya terhadap tujuan bisnis.
Salah satu pelaku industri kreatif yang menerapkan pendekatan tersebut adalah BRICKS. Agensi yang didirikan oleh Stephanie Putri Fajar dan Rangga Akbar Pradipta itu mengembangkan strategi pemasaran dengan memadukan kreativitas, data, dan evaluasi performa.
Stephanie mengatakan peran agensi kreatif saat ini mengalami perubahan. Selain menghasilkan materi kampanye, agensi juga dituntut memberikan masukan strategis yang dapat membantu perusahaan mencapai target bisnis.