Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Hari Ini Ditutup Naik ke Rp18.022 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 31 Juli 2026 |15:46 WIB
Rupiah Hari Ini Ditutup Naik ke Rp18.022 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

Data inti PCE bulan Juni yang lebih rendah dari perkiraan, yang dirilis pada hari Kamis, membantu meredakan kekhawatiran mengenai tingginya inflasi dan suku bunga. Data ini merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Akan tetapi, indeks inti PCE masih berada jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen dan pasar terlihat sudah memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed pada akhir tahun ini.

Dari sentimen domestik, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan. Putusan ini menetapkan bahwa pemisahan dana dari pos wajib 20 persen anggaran pendidikan tersebut berlaku paling lambat pada APBN Tahun Anggaran 2028. Hal tersebut merupakan sebuah langkah yang dipandang memperkuat reformasi tata kelola terkait program unggulan Presiden Prabowo.

Selain itu, laju inflasi diperkirakan kembali melandai pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan dan normalisasi kenaikan harga yang diatur pemerintah. Meski demikian, para ekonom mengingatkan risiko inflasi belum sepenuhnya hilang karena pelemahan rupiah, potensi El Nino, hingga meningkatnya permintaan pangan masih berpotensi mendorong kenaikan harga pada paruh kedua tahun ini.

Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 akan bergerak mendekati level 3 persen, sementara inflasi bulanan juga diproyeksikan lebih rendah dibandingkan Juni 2026. inflasi Juli secara bulanan diperkirakan sebesar 0,03 persen turun dari 0,44 persen pada Juni. Sementara secara tahunan, inflasi diproyeksikan mencapai 3,06 persen, lebih rendah dibandingkan 3,34 persen pada bulan sebelumnya.

Perlambatan inflasi terutama didorong penurunan harga pangan bergejolak dan normalisasi harga yang diatur pemerintah setelah penyesuaian harga bensin nonsubsidi pada bulan sebelumnya. komponen harga pangan bergejolak (volatile food) diperkirakan mengalami deflasi 1,12 persen secara bulanan, berbalik dari inflasi 0,14 persen pada Juni.

Penurunan tersebut ditopang turunnya harga cabai merah dan bawang bombai seiring memasuki puncak musim panen. Sementara itu, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) diperkirakan hanya sebesar 0,10 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 1,41 persen pada Juni setelah tekanan akibat penyesuaian harga bensin nonsubsidi mulai mereda.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.020-Rp18.070 per dolar AS. Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi di rentang Rp17.920-Rp18.300 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement