JAKARTA - Transformasi digital di Indonesia memasuki fase yang semakin matang. Berbagai perusahaan di berbagai sektor terus berinvestasi pada kecerdasan buatan (AI) dan memperluas infrastruktur digital.
Namun, di balik percepatan tersebut muncul tantangan baru: perusahaan memiliki lebih banyak data dibandingkan sebelumnya, tetapi semakin sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan IT mereka secara real time.
Persoalannya bukan lagi kurangnya teknologi atau infrastruktur. Sistem yang semakin kompleks menghasilkan telemetri, log, alert, dan berbagai sinyal operasional dalam jumlah besar. Ketika insiden terjadi, tim IT sering kali membutuhkan waktu untuk menghubungkan informasi tersebut agar dapat menemukan akar penyebab masalah.
Kondisi ini dikenal sebagai operational blind spots atau kesenjangan visibilitas dalam operasional IT. Di era AI, persoalan tersebut tidak lagi sekadar menjadi tantangan teknis, tetapi mulai memengaruhi kecepatan pengambilan keputusan, ketahanan operasional, dan pengalaman pelanggan.
"Banyak organisasi mengira tantangan terbesar mereka adalah kompleksitas. Padahal, yang kami temui di lapangan justru adalah kurangnya visibilitas terhadap keseluruhan lingkungan IT," ujar Technical Manager ManageEngine Indonesia Hanief Bastian dalam keterangannya, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Dia menambahkan, ketika sebuah insiden terjadi, persoalannya bukan karena perusahaan kekurangan data. Tantangannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk menghubungkan berbagai informasi yang tersebar sebelum tim benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
"Sering kali, ketika jawabannya sudah ditemukan, dampaknya sudah telanjur meluas. Karena itu, mengurangi decision latency menjadi semakin penting, terutama ketika bisnis semakin bergantung pada AI dan operasional real time," ujarnya.
Menurut Hanief, investasi AI tidak dapat berdiri sendiri. Organisasi juga perlu memastikan fondasi operasional IT memiliki tingkat visibilitas yang memadai agar setiap keputusan didasarkan pada informasi yang utuh, bukan potongan data yang tersebar di berbagai sistem.