JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah naik 22 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.840 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen berasal dari faktor eksternal, yakni investor menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal.
"Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran," tulis Ibrahim dalam risetnya, Rabu (19/8/2026).
Kesepakatan gencatan senjata sementara telah berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" akibat kebuntuan diplomatik. Meski demikian, tidak ada laporan mengenai serangan baru dari kedua belah pihak pada Selasa.
Untuk menghindari Selat Hormuz, kabinet Irak menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah Irak melalui perusahaan internasional dan lokal khusus serta melalui berbagai jalur ekspor, demikian disampaikan pemerintah pada Selasa. Kontrak-kontrak di bawah mekanisme baru ini akan berlaku selama tiga bulan mulai 1 September, menurut pernyataan yang dirilis setelah rapat kabinet.
Sementara itu, dua perusahaan pelayaran raksasa asal Tiongkok telah menghentikan pengiriman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb di tengah konflik Timur Tengah. Mereka beralih mengambil muatan minyak di luar wilayah Teluk, menurut keterangan tiga eksekutif industri, pihak pemantau pergerakan kapal tanker, dan seorang broker kapal.
Di tengah situasi tersebut, investor menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan Juli yang dijadwalkan dirilis pada Rabu untuk mendapatkan petunjuk mengenai penilaian para pembuat kebijakan terhadap inflasi serta langkah yang tepat terkait suku bunga. Perhatian kemudian akan beralih pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole pekan depan.
Dari sentimen domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18-19 Agustus 2026. Keputusan tersebut disampaikan oleh Pjs. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat mengumumkan hasil RDG Agustus 2026 pada hari ini.
Dalam pengumuman suku bunga BI hari ini, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,75 persen dan 6,50 persen. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Kebijakan moneter tersebut juga menjadi upaya untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah serta memperkuat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas, mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.840-Rp17.900 per dolar AS.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.