JAKARTA — Penguatan ekosistem industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Industri tidak cukup hanya menemukan sumber daya, tetapi perlu memastikan potensi tersebut dapat dikonversi menjadi cadangan, proyek, investasi, hingga produksi.
Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Andre Wijanarko mengatakan upaya menutup kesenjangan produksi migas membutuhkan kepastian kebijakan, daya saing investasi, serta kemampuan eksekusi.
"Kita tidak cukup hanya berbicara tentang menemukan cadangan. Kita harus berbicara tentang bagaimana resource menjadi reserve, reserve menjadi project, project menjadi investment, dan investment menjadi production," ujar Andre, Rabu (16/9/2026).
Menurut Andre, setiap tahapan tersebut menghadapi tantangan, mulai dari regulasi, keekonomian proyek, teknologi, infrastruktur, hingga proses pengambilan keputusan. Karena itu, ekosistem industri harus mampu memberikan kepastian, daya saing, dan eksekusi.
"Kepastian agar investor memiliki kejelasan dan keyakinan terhadap arah kebijakan, regulasi, serta keekonomian proyek. Daya saing agar proyek-proyek migas Indonesia mampu bersaing dalam menarik modal, teknologi, dan talenta terbaik. Dan yang tidak kalah penting adalah eksekusi," katanya.
Andre mengatakan penguatan industri hulu juga perlu dilakukan melalui peningkatan eksplorasi, percepatan pengembangan lapangan, penciptaan iklim investasi yang kompetitif, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sumber daya manusia.
Ia menilai perluasan peluang eksplorasi menjadi salah satu langkah untuk menciptakan sumber pertumbuhan produksi baru. Penambahan dan penawaran Wilayah Kerja (WK) migas baru dapat membuka peluang investasi, eksplorasi, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan industri penunjang.
Namun, menurut dia, pembukaan WK baru bukan merupakan tujuan akhir. Potensi yang tersedia harus dapat dikonversi menjadi cadangan, dikembangkan menjadi proyek, dan menghasilkan produksi.
"Namun, membuka peluang baru hanyalah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikonversi menjadi cadangan, dikembangkan menjadi proyek, dan pada akhirnya menghasilkan produksi yang nyata," kata Andre.
Untuk mencapai hal tersebut, Andre menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, investor, akademisi, dan asosiasi profesi. Kolaborasi diperlukan agar peluang investasi dan eksplorasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan produksi.
"Sebagai asosiasi profesi, IATMI memiliki tanggung jawab untuk mempertemukan pengalaman, kompetensi, inovasi teknologi, dan gagasan para profesional dengan kebutuhan industri dan kepentingan nasional," ujarnya.
Ia juga menilai penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri migas. Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kebijakan dan investasi saat ini, tetapi juga kesiapan generasi yang akan melanjutkan industri energi nasional.
"Kita juga sedang mempersiapkan siapa yang akan melanjutkannya di masa yang akan datang," katanya.
Andre berharap upaya memperkuat ekosistem hulu migas dapat menghasilkan langkah konkret untuk meningkatkan produksi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
"Semoga dari forum ini lahir langkah-langkah nyata untuk memperkuat industri migas, menutup gap produksi, serta mewujudkan ketahanan dan swasembada energi Indonesia yang tangguh, kompetitif, mandiri, dan berkelanjutan," ujar Andre.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.