Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4.602 Lokasi Bakal Dialiri Listrik dengan Energi Terbarukan

Binti Mufarida , Jurnalis-Kamis, 17 September 2026 |12:25 WIB
4.602 Lokasi Bakal Dialiri Listrik dengan Energi Terbarukan
Energi Baru Terbarukan (EBT) akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah yang belum terjangkau jaringan PT PLN (Persero). (Foto: Okezone.com/ESDM)
A
A
A

JAKARTA – Energi Baru Terbarukan (EBT) akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah yang belum terjangkau jaringan PT PLN (Persero). Skema tersebut akan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di 4.602 lokasi.

Pemerintah saat ini tengah menjalankan Program Elektrifikasi untuk menghadirkan akses listrik ke 10.068 lokasi yang belum sepenuhnya menikmati layanan listrik pada periode 2025–2029.

Implementasi program tersebut akan dilakukan melalui dua skema berdasarkan hasil pemetaan lokasi.

Pada skema pertama, sebanyak 5.466 lokasi dapat dilayani melalui jaringan listrik PLN yang sudah tersedia. Dengan demikian, kebutuhan listrik di lokasi tersebut akan dipenuhi dari sistem pembangkitan dan jaringan eksisting tanpa memerlukan pembangunan pembangkit baru.

Sementara itu, pada skema kedua, pemerintah menyiapkan pembangunan pembangkit listrik skala kecil berbasis EBT yang bersifat off-grid untuk melayani lokasi yang belum terjangkau jaringan listrik eksisting.

"Untuk lokasi-lokasi yang bersifat off-grid, pasokan listrik direncanakan menggunakan pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT)," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam konferensi pers, dikutip Kamis (17/9/2026).

Ia menambahkan, pembangkit EBT tersebut akan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang paling potensial di masing-masing lokasi. Adapun total kebutuhan kapasitas pembangkit skala kecil tersebut diperkirakan mencapai 508 megawatt (MW) di seluruh titik off-grid.

Qodari melanjutkan, secara keseluruhan, kebutuhan biaya untuk mengalirkan listrik ke 10.068 lokasi tersebut diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan secara bertahap selama periode 2025–2029.

Ia berharap program tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap listrik yang andal sekaligus mengurangi ketergantungan rumah tangga di wilayah terpencil pada sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar.

"Kehadiran listrik mendorong rumah tangga beralih dari sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar, sehingga mengurangi biaya yang selama ini mereka keluarkan untuk membeli bahan bakar tersebut," pungkasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement