Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Danantara-BP BUMN Turun Tangan Bereskan Masalah Industri Tekstil dan Sepatu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Kamis, 24 September 2026 |21:23 WIB
Danantara-BP BUMN Turun Tangan Bereskan Masalah Industri Tekstil dan Sepatu
Memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersama Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) berkomitmen memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. Langkah ini diarahkan untuk mendongkrak kembali daya saing manufaktur padat karya dalam negeri di tengah tekanan persaingan pasar global.

Sejalan dengan itu, agenda tersebut difokuskan untuk merumuskan langkah pemulihan yang konkret agar industri padat karya nasional mampu bangkit menghadapi serbuan produk impor dan tekanan ekspor.

Pada 2024, kedua industri tersebut terus tumbuh secara moderat. Industri tekstil mencapai nilai tertinggi sebesar Rp203,95 triliun, sementara industri alas kaki mencapai Rp49,24 triliun. Kontribusi industri tekstil tercatat berada di kisaran 0,97% hingga 0,99% terhadap total PDB nasional.

"Danantara Indonesia dan BP BUMN berkomitmen penuh memperkuat daya saing industri tekstil dan sepatu nasional dari hulu hingga hilir. Penguatan ini sangat krusial agar industri padat karya kita mampu menghadapi persaingan global yang ketat dengan negara-negara kompetitor," ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, Kamis (24/9/2026).

Dalam pertemuan yang digelar baru-baru ini, pelaku industri tekstil dan sepatu membeberkan sejumlah tantangan struktural yang dihadapi dalam operasional pabrik. Berbagai persoalan mendasar yang disoroti mencakup tingginya beban produksi, kendala pada sistem kerja, hingga inefisiensi struktur pembiayaan harian.

Menanggapi keluhan pengusaha, Danantara menekankan perlunya audit menyeluruh terhadap rantai pasok agar pembenahan struktur biaya berjalan terarah dan terukur. Efisiensi tersebut bakal didorong melalui pemanfaatan ekosistem kawasan industri yang terhubung langsung dengan simpul infrastruktur logistik utama.

"Kami meminta persoalan industri tekstil maupun sepatu dipetakan secara komprehensif, mulai dari kapasitas produksi, tren jangka panjang, ekspor, hingga perbandingan produktivitas dengan negara kompetitor agar beban produksi semakin efektif dan efisien. Ke depan, Danantara dan BP BUMN siap mendukung dengan mengintegrasikan pabrik ke kawasan industri yang terhubung pelabuhan, dry port, jalan tol, dan energi untuk memangkas biaya operasional," tutur Dony.

Untuk menjaga stabilitas penjualan di tingkat produsen, BUMN juga diwajibkan memaksimalkan penyerapan produk tekstil dan sepatu dalam negeri. Penyerapan belanja pengadaan internal BUMN ini diharapkan dapat menjamin kepastian permintaan di pasar lokal saat pesanan ekspor mengalami perlambatan.

Penataan ekosistem manufaktur ini juga memerlukan sinkronisasi kebijakan antarinstansi pemerintah guna membendung hambatan tata niaga serta memperluas akses modal kerja. Integrasi lintas sektor tersebut dinilai krusial untuk melindungi jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidup pada industri padat karya.

"Danantara dan BP BUMN akan berkoordinasi erat dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mengurai hambatan lintas sektor, mulai dari perdagangan, investasi, hingga pembiayaan. Upaya terpadu ini diharapkan dapat membangun kembali fondasi manufaktur nasional, menyerap lapangan kerja secara luas, serta mengembalikan daya saing Indonesia di pasar domestik maupun global," urai Dony.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement