JAKARTA — Logistik maritim diperkuat untuk mendukung kelancaran distribusi biodiesel di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan konektivitas antara kapal, terminal, depot, dan berbagai titik penerima di wilayah Indonesia.
Direktur Pemasaran PT Pertamina Trans Kontinental, Albertus, mengatakan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat logistik maritim memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan biodiesel di berbagai wilayah.
“Ketika produk sudah tersedia, pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana memastikan produk tersebut dapat sampai ke wilayah yang membutuhkannya, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Di sinilah logistik maritim menjadi sangat penting,” ujar Albertus, Selasa (29/9/2026).
Albertus menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi bertajuk “Supporting Maritime Logistics for Biodiesel Distribution Across Indonesia: The Role of Integrated Marine Operations in Connecting Supply Across an Archipelagic Nation.”
Menurut Albertus, distribusi energi di Indonesia membutuhkan konektivitas yang luas antara kapal, terminal, depot, dan berbagai titik penerima di seluruh wilayah. PTK sebagai bagian dari ekosistem Integrated Marine Logistics Pertamina Group berperan menghubungkan kapal dengan terminal melalui berbagai aktivitas marine dan port operations.
Peran tersebut mencakup sejumlah aktivitas, mulai dari pilotage, bantuan tugboat, mooring and unmooring, hingga koordinasi dengan fasilitas pelabuhan. Seluruh aktivitas tersebut dilakukan untuk memastikan konektivitas maritim berjalan secara aman, efisien, dan konsisten.
Mendukung Perjalanan Biodiesel Indonesia
PTK telah berkontribusi dalam aspek maritim sejak implementasi awal program B2.5 pada 2008. Peran tersebut kemudian berkembang pada 2019 melalui pengelolaan FAME Floating Storage dan Ship-to-Ship (STS) Operation di Balikpapan, seiring meningkatnya kebutuhan distribusi biodiesel dan persiapan menuju B30.
Pada periode 2019 hingga 2026 year-to-date, operasi tersebut mencatat sekitar 1.192 kunjungan kapal pemasok dan 3.829 kunjungan kapal pengangkut.
Dalam skema tersebut, PTK mengelola Floating Storage dan operasi STS yang didukung koordinasi maritim, bantuan tugboat, penempatan kapal, mooring, transfer kargo, pemantauan, serta aspek HSSE.
Albertus mengatakan keberhasilan distribusi biodiesel tidak dapat bergantung pada satu pihak. Menurut dia, diperlukan kolaborasi antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kami memahami bahwa tidak ada satu perusahaan yang dapat mengelola seluruh ekosistem biodiesel sendirian. Dibutuhkan kerja sama antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai stakeholder lainnya,” jelas Albertus.
Perkuat Kolaborasi Industri
PMSol bersama PTK Group turut memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan para pelaku industri biodiesel melalui partisipasi dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Bali tersebut, PMSol hadir bersama PTK Group melalui booth dan berinteraksi dengan berbagai stakeholder industri biodiesel Indonesia. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas engagement sekaligus mendukung pengembangan ekosistem biodiesel nasional yang semakin terintegrasi.
Albertus menegaskan PTK siap terus bekerja sama dengan para anggota APROBI dan stakeholder lainnya untuk memahami kebutuhan industri serta mengeksplorasi solusi maritim yang sesuai dengan perkembangan ekosistem biodiesel.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan biodiesel Indonesia dapat terus bergerak dengan aman, andal, dan berkelanjutan,” tutup Albertus.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.