Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Hari Ini Dibayangi Reshuffle dan Rupiah, Bergerak di Kisaran 6.000 

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 02 Oktober 2026 |07:48 WIB
IHSG Hari Ini Dibayangi Reshuffle dan Rupiah, Bergerak di Kisaran 6.000 
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam rentang konsolidasi pada perdagangan hari ini. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)
A
A
A

Di mata pelaku pasar modal, pergantian komposisi pembantu presiden bukan sekadar pergantian figur pengisi pos kementerian teknis. Fokus utama para pengelola dana kini tertuju pada jaminan kepastian regulasi sektoral dan koordinasi antarotoritas pengambil kebijakan fiskal maupun moneter.

"Pasar melakukan penilaian bukan hanya berdasarkan siapa yang masuk dan keluar, tetapi terutama terhadap kepastian kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, BUMN, hingga koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia. Dalam jangka sangat pendek, perubahan besar ini memang meningkatkan ketidakpastian, sehingga pasar menunggu seberapa cepat pemerintah memberikan sinyal kebijakan yang jelas dan terkoordinasi," tutur Hendra.

Menilik indikator pergerakan hari ini, posisi indeks di level 6.000 memegang peranan penentu untuk menahan laju koreksi lanjutan setelah empat hari bursa tertekan beruntun. Jika batas psikologis tersebut tertembus kembali ke bawah, pasar saham domestik dibayangi risiko pelemahan menuju batas bawah di level 5.900.

Secara teknikal, pergerakan indeks komposit hari ini bakal diuji oleh ketahanan level psikologis yang sempat tersentuh pada perdagangan sebelumnya. Peluang pembalikan arah jangka pendek terbuka lebar, kendati ruang penguatan tersebut diproyeksikan belum mengubah tren pelemahan secara struktural.

"Level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat krusial, di mana peluang technical rebound tetap terbuka setelah empat hari perdagangan beruntun terkoreksi. Namun, jika level 6.000 kembali ditembus ke bawah, pasar patut mewaspadai pelemahan ke 5.900, sedangkan untuk mengonfirmasi pemulihan tren, indeks harus mampu menembus area 6.100 hingga 6.150 dengan dukungan volume transaksi yang solid," jelas Hendra.

Dari panggung global, dinamika harga minyak mentah jenis Brent yang mendekati US$100 per barel menjadi ancaman nyata bagi stabilitas makroekonomi dalam negeri. Lonjakan beban impor minyak mentah tidak hanya berisiko mengerek inflasi, tetapi juga menyedot cadangan devisa yang berujung pada pelemahan rupiah lanjutan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement