Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Dibuka Naik Tipis ke Level 6.013

Feby Novalius , Jurnalis-Jum'at, 02 Oktober 2026 |09:21 WIB
IHSG Dibuka Naik Tipis ke Level 6.013
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menghijau pada awal perdagangan hari ini, Jumat (2/10/2026). (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)
A
A
A

Menilik indikator pergerakan hari ini, posisi indeks di level 6.000 memegang peranan penting untuk menahan laju koreksi lanjutan setelah empat hari bursa tertekan beruntun. Jika batas psikologis tersebut kembali tertembus ke bawah, pasar saham domestik dibayangi risiko pelemahan menuju batas bawah di level 5.900.

Secara teknikal, pergerakan indeks komposit hari ini bakal diuji oleh ketahanan level psikologis yang sempat tersentuh pada perdagangan sebelumnya. Peluang pembalikan arah jangka pendek terbuka lebar, kendati ruang penguatan tersebut diproyeksikan belum mengubah tren pelemahan secara struktural.

"Level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat krusial, di mana peluang technical rebound tetap terbuka setelah empat hari perdagangan beruntun terkoreksi. Namun, jika level 6.000 kembali ditembus ke bawah, pasar patut mewaspadai pelemahan ke 5.900, sedangkan untuk mengonfirmasi pemulihan tren, indeks harus mampu menembus area 6.100 hingga 6.150 dengan dukungan volume transaksi yang solid," jelas Hendra.

Dari panggung global, dinamika harga minyak mentah jenis Brent yang mendekati US$100 per barel menjadi ancaman nyata bagi stabilitas makroekonomi dalam negeri. Lonjakan beban impor minyak mentah tidak hanya berisiko mengerek inflasi, tetapi juga menyedot cadangan devisa yang berujung pada pelemahan rupiah lanjutan.

Risiko eksternal dari lonjakan komoditas energi global kian mempersempit ruang gerak otoritas moneter dalam melonggarkan likuiditas di pasar keuangan domestik. Kondisi ini membuat sentimen positif dari potensi pelonggaran suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat belum mampu direspons maksimal oleh bursa saham lokal.

"Harga minyak Brent yang kembali mendekati US$100 per barel memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi dan menekan rupiah, sehingga membatasi ruang Bank Indonesia melonggarkan kebijakan moneter demi menjaga stabilitas kurs. Akibatnya, ekspektasi pelonggaran The Fed belum otomatis menguntungkan pasar saham domestik karena persepsi investor asing dan valuasi modal sangat sensitif terhadap nilai tukar rupiah serta yield obligasi," urai Hendra.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement