Menurut Agus, penutupan bandara merupakan keputusan yang harus diambil meskipun konsekuensinya sangat besar terhadap operasional penerbangan dan penumpang.
"Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle," ujarnya.
Peringatan mengenai ancaman abu vulkanik terhadap operasional Bandara Soetta sudah disuarakan sejak 5 September sore. Menurut dia, maskapai Pelita Air menjadi pihak yang paling awal mendorong rencana penutupan bandara demi alasan keselamatan.
Dampak penutupan tersebut pun sangat besar. Dalam kondisi normal, Bandara Soekarno-Hatta melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan sekitar 130 ribu penumpang per hari. Dengan sejumlah bandara lain ikut terdampak, termasuk Halim Perdanakusuma, Tanjung Karang, dan Bandung, Agus memperkirakan jumlah penumpang yang terdampak mencapai lebih dari 200 ribu orang.
Angkasa Pura kemudian mengaktifkan posko dan melakukan sejumlah langkah untuk menangani penumpang yang terdampak. Salah satunya dengan menyediakan bus untuk memobilisasi penumpang menuju bandara lain di Pulau Jawa, seperti Solo, Yogyakarta dan Surabaya.
"Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp40 miliar ada kali dalam dua hari itu. Tapi tentu kami tidak memikirkan itu," pungkas Agus.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.