Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Hari Ini Diproyeksikan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Tertekan Inflasi AS hingga Melebarnya Defisit Transaksi Berjalan

Rohman Wibowo , Jurnalis-Kamis, 15 Oktober 2026 |08:06 WIB
Rupiah Hari Ini Diproyeksikan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Tertekan Inflasi AS hingga Melebarnya Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Pelemahan mata uang garuda ini dibayangi oleh antisipasi pasar terhadap lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam serta kekhawatiran atas melebarnya defisit transaksi berjalan domestik.

Pelaku pasar valuta asing saat ini bersikap defensif menjelang publikasi indikator harga konsumen acuan yang dapat mengubah peta pemangkasan suku bunga The Fed. Di saat yang sama, sentimen internal turut terbebani oleh proyeksi kenaikan inflasi dan pelebaran defisit neraca eksternal meski prospek pertumbuhan ekonomi nasional dinilai masih solid.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Tekanan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap rilis data inflasi AS serta bayang-bayang pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, dikutip Kamis (15/10/2026).

Fokus investor global tertuju pada rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk mendapatkan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS. CPI utama September diprediksi melaju 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/MoM) dari 0,4 persen pada Agustus, sementara inflasi tahunan ditaksir mendaki ke level 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen.

Dinamika pasar global kian kompleks seiring laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyoroti dua kekuatan transformatif utama pembentuk ekonomi dunia, yakni eskalasi geopolitik dan disrupsi teknologi. 

Lembaga donor tersebut menilai paparan dampak di setiap negara berbeda-beda tergantung pada kedekatan wilayah dengan episentrum konflik, sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas mentah, hingga kemampuan memanfaatkan ledakan adopsi kecerdasan buatan.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement