Dia mengungkapkan, pemerintah telah menyetujui alokasi gas domestik dari proyek tersebut, termasuk pasokan gas pipa untuk PT Pupuk Indonesia (Persero) serta LNG untuk PT PLN (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).
Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah juga menyiapkan alokasi ekspor LNG dari proyek Masela. Dengan demikian, proyek tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi melalui pemenuhan kebutuhan energi nasional sekaligus penjualan gas ke pasar internasional.
"Proyek Abadi ini merupakan proyek yang sangat ditunggu oleh semua pihak, baik negara, bangsa, masyarakat, terutama masyarakat Maluku dan masyarakat Indonesia pada umumnya," katanya.
Djoko menyampaikan, rampungnya FEED menjadi fondasi untuk mempercepat tahapan pengembangan berikutnya, termasuk menuju keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID).
Proses tersebut masih memerlukan penyelesaian sejumlah aspek penting, antara lain persyaratan komersial melalui Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) serta persiapan pengadaan barang dan jasa untuk mendukung pembangunan fasilitas proyek.
SKK Migas, lanjut Djoko, terus berkoordinasi dengan Inpex Masela dan para mitra yang terlibat agar setiap tahapan dapat berjalan sesuai jadwal, anggaran, ruang lingkup pekerjaan, serta standar keselamatan yang ditetapkan.
Di lapangan, aktivitas persiapan juga terus berjalan, termasuk pembangunan pagar dan jalan serta persiapan kompensasi sosial bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh pengembangan proyek.
Sebelumnya, proyek Abadi Masela telah menjalani peletakan batu pertama atau groundbreaking oleh Presiden Republik Indonesia pada Juli 2026.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.