JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb/BJBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. Capaian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income, serta efisiensi operasional. Hingga September 2026, pendapatan bunga bersih bank bjb tumbuh 1,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan fee-based income mencapai Rp1,7 triliun.
Dari sisi efisiensi, bank bjb berhasil menekan beban operasional sekitar 2 persen. Langkah tersebut turut mendorong pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan kerugian penurunan nilai atau Pre-Provision Operating Profit (PPOP) lebih dari 5,5 persen secara tahunan.
Meski demikian, perseroan tetap memperhitungkan potensi risiko penurunan kualitas kredit dengan membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) secara konservatif sebesar Rp692 miliar. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko pada portofolio kredit.
"Konsistensi strategi bisnis dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perusahaan di tengah dinamika industri perbankan," ujar Direktur Utama bank bjb Ayi Subarna, Jumat (30/10/2026).
Dari sisi bisnis, hingga September 2026 total aset konsolidasi bank bjb mencapai Rp219,7 triliun. Dari jumlah tersebut, perusahaan anak menyumbang aset sebesar Rp44,9 triliun atau sekitar 20 persen dari total aset grup.