Namun, besarnya volume produksi tersebut tidak otomatis memberikan keuntungan maksimal bagi perusahaan maupun negara. Bahlil menilai produksi yang berlebihan justru berpotensi menekan harga batu bara sehingga sumber daya alam Indonesia dijual dengan harga lebih rendah.
"Apa yang terjadi? Harga batu bara 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jor-joran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," tambahnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mengambil kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) guna mengendalikan produksi batu bara dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sehingga harga komoditas dapat meningkat.
Bahlil menyebut kebijakan tersebut turut mendorong kenaikan harga batu bara berkalori tinggi hingga mencapai US$154 per ton pada tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kisaran US$100-US$120 per ton pada periode Januari-Agustus 2025.
"Hari ini harga batu bara bisa mencapai US$154, untuk kalori 6.300. Ini strategi, karena kita jaga supply and demand, pendapatan negara kita melonjak, produksi turun," jelasnya.