JAKARTA - Pemerintah memproyeksikan perputaran uang dan dampak ekonomi berganda atau multiplier effect dari kebijakan stimulus diskon transportasi pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027 dapat menembus ratusan triliun rupiah.
Dengan estimasi pergerakan lebih dari 130 juta orang, konsumsi masyarakat di berbagai daerah tujuan diyakini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada penutupan kuartal keempat.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengalkulasi bahwa stimulus fiskal yang dikucurkan pemerintah akan memicu gelombang belanja perjalanan yang jauh melampaui nilai subsidi tiket itu sendiri.
"Kan subsidi pemerintah saja ya Rp800 miliar lebih itu kan subsidi pemerintah. Rakyat kan belanja. mereka yang yang melakukan perjalanan, itu kan kita harapkan bisa di atas 130 juta orang. Nah, kalau satu orang katakanlah spending-nya katakanlah minimal Rp2 juta saja, 130 juta kali Rp2 juta kan sudah Rp260 triliun. Itu bisa tiga kali lipat nanti itu. Jadi kita kita tunggu nanti hasilnya. Tapi intinya akan sangat besar sekali," ujar Dradjad dalam momen peluncuran program stimulus transportasi untuk liburan Nataru, di Jakarta, Minggu (8/11/2026).
Efek berantai dari dana yang dibelanjakan masyarakat selama musim liburan dinilai akan langsung mengalir ke berbagai sektor riil di daerah, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga penginapan. Otoritas memperkirakan daya ungkit ekonomi dari setiap rupiah yang dikeluarkan pemudik mampu berlipat ganda di tingkat lokal.
"Saya rasa sih minimal tiga kali lipat bisa ini. Dari yang dibelanjakan oleh rakyat. Kalau subsidi itu kan Rp 800 miliar. Tapi masyarakat kan belanja. Nah, itu belanjanya kan besar. Nah, itu setiap satu rupiah yang dibelanjakan masyarakat di daerah, itu mungkin bisa punya multiplier tiga kali lipat," jelas Dradjad.
Melihat besarnya kontribusi kebijakan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk mempertebal bantalan stimulus fiskal pada momentum Nataru kali ini. Alokasi pembiayaan untuk memangkas tarif tiket publik dinaikkan lebih dari dua kali lipat demi menjangkau seluruh moda transportasi secara serentak.