JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran publik terkait potensi krisis ekonomi dalam waktu dekat. Ia menegaskan, berdasarkan indikator terkini, ekonomi Indonesia justru tengah berada dalam fase akselerasi pertumbuhan yang kuat.
Purbaya juga menyoroti aktivitas konsumsi masyarakat pasca-Lebaran sebagai indikator terjaganya daya beli. Selain itu, menurutnya, dampak fluktuasi harga minyak dunia berhasil diredam melalui penyerapan beban pada APBN, sehingga tidak langsung menekan ekonomi domestik.
"Jadi kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus. Kalau bola kristal yang saya bilang, leading economic index kita yang tidak salah, sampai nanti 2029–2030 kita ekspansi terus. Jadi kita jauh dari krisis," tegas Purbaya di kantornya, Jumat (27/3/2026).
Menanggapi target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen, Bendahara Negara ini menjelaskan bahwa angka tersebut didasarkan pada data riil di lapangan, mulai dari survei konsumen, Purchasing Managers' Index (PMI), hingga angka penjualan otomotif yang terus merangkak naik.
Purbaya bahkan menyebutkan bahwa jika sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter berjalan optimal untuk menggerakkan sektor swasta, angka pertumbuhan 6 persen bukan hal yang mustahil dicapai.
“Tapi pada dasarnya kalau saya bisa jalankan mesin fiskal dan mesin moneter yang menggerakkan swasta, tumbuh 6 persen seharusnya tidak terlalu sulit. Di atas buku ya. Tapi di lapangan kan kita perlu dorongan-dorongan lain supaya lebih cepat lagi. Tapi yang jelas, mesin-mesin itu sudah kita hidupkan,” jelasnya.
Purbaya meyakinkan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi di “balik layar” untuk memastikan mesin perekonomian tetap bergerak, salah satunya dengan menjaga kecukupan likuiditas dalam sistem keuangan dan memastikan belanja negara terserap tepat waktu.