JAKARTA - Pergerakan saham PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) di tengah tekanan pasar. Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 37,35 poin atau 0,53 persen ke level 6.989,43 pada perdagangan Senin, 2 April 2026.
Namun, saat IHSG bergerak melemah dan mayoritas sektor industri bergerak turun, saham KRAS justru menguat. Menyikapi fenomena tersebut, analis pasar modal Riska Afriani mengatakan, investor memang akan memilih saham-saham yang dinilai menarik dan memiliki kinerja baik.
”Kalau kondisi seperti ini, investor memilih saham yang menarik. Salah satunya KRAS,” kata Riska di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Riska sependapat, bahwa penguatan saham KRAS memang menarik. Mengingat, bahwa pelemahan IHSG pada hari tersebut bersifat luas dan dipengaruhi sentimen global. Bukan hanya ketidakpastian geopolitik, melesatnya harga crude oil, dan terus melemahnya mata uang Rupiah. Bahkan, menurut Riska, pelemahan IHSG juga ditandai dengan penurunan saham-saham LQ45.
”Saya lihat memang lebih kompleks. Bahkan saham blue chip juga dijual, ini kan menimbulkan kekhawatiran signifikan. Jadi, panic selling terhadap investor," katanya.
Dia sependapat bahwa pergerakan KRAS menunjukkan dinamika yang berbeda. Apalagi, saham sektor industri juga mengalami penurunan 2,23% pada penutupan perdagangan minggu lalu.
Riska setuju bahwa penguatan saham KRAS mencerminkan adanya minat beli yang lebih selektif dari investor, yang mulai melihat potensi jangka menengah hingga panjang dari proses transformasi yang tengah berlangsung di dalam perusahaan.
Bahkan, kata Riska, dalam situasi pasar yang cenderung defensif, saham dengan karakteristik turnaround story seperti KRAS kerap menjadi alternatif bagi investor yang mencari peluang di luar pergerakan pasar secara umum.
”Kenaikan KRAS memang dipengaruhi faktor internal perusahaan, yang fundamental. Apalagi sekarang KRAS membaik, yang bisa dilihat dari laba 2025 yang naik signifikan. Dari rugi Rp2,8 triliun pada 2024 membalik menjadi untung Rp5,7 triliun pada 2026,” kata dia.