Gulat menilai persoalan utama terjadi akibat bottleneck informasi dan munculnya spekulasi pasar setelah pengumuman kebijakan DSI. Dia menyebut banyak pelaku usaha belum mendapatkan penjelasan utuh terkait mekanisme kebijakan tersebut sehingga memicu kepanikan pasar.
“Empat jam setelah pengumuman Presiden Prabowo pada 20 Mei lalu, harga langsung turun Rp400. Besoknya turun lagi Rp800, lalu terus sampai Rp1.500. Padahal ekspor tidak dihentikan dan implementasi penuh baru berlaku Januari 2027,” ujarnya.
Apkasindo pun meminta pemerintah segera memberikan penjelasan yang jelas mengenai implementasi DSI agar harga TBS tidak terus terpuruk akibat ketidakpastian informasi di pasar.
Meski demikian, Apkasindo menegaskan pihaknya tetap mendukung pembentukan DSI karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
“Petani sawit swadaya maupun bermitra mendukung DSI, tetapi harus dijelaskan cepat. Jangan petani dibiarkan jadi korban abu-abunya penjelasan tentang DSI. Masa kita jual sawit sendiri-sendiri ke luar negeri tanpa kendali harga. Kalau DSI berjalan baik, ini bisa menjadi dirigen sawit Indonesia,” pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)