JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah ke level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.52 WIB, nilai tukar Rupiah melemah 0,41 persen ke level Rp18.041 per dolar AS.
Merespons fluktuasi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, kejatuhan Rupiah saat ini didorong oleh kombinasi tekanan eksternal dan siklus kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN)," kata Destry dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia memastikan diri untuk terus mengawal pergerakan pasar secara real-time. BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan agar volatilitas tetap berada dalam batas toleransi fundamentalnya.
"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik," kata Destry.
Secara teknis, Destry menjabarkan bahwa operasi pasar akan dieksekusi secara berkesinambungan dan konsisten melalui berbagai instrumen berlapis, baik di pasar domestik maupun internasional (offshore), serta memperkuat komunikasi dengan para pelaku usaha.
"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ungkap Destry.