"Pemetaan harus mampu menjawab pertanyaan strategis mengenai kompetensi apa yang dibutuhkan industri lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kita harus tahu berapa jumlah teknisi yang diperlukan di setiap sektor prioritas," jelas Shinta.
Shinta menitiberatkan, tanpa pemetaan yang tepat, Indonesia berisiko terus terjebak dalam paradoks tenaga kerja. Fenomena di mana perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja kompeten sementara banyak lulusan baru yang menganggur harus segera diakhiri.
Terkait solusi jangka panjang, Shinta mendorong terciptanya kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat. Tekanannya bahwa keterlibatan aktif semua pihak, termasuk dunia usaha dan institusi pendidikan, akan menciptakan ekosistem yang sinergis.
"Kita memerlukan kemitraan yang erat antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah vokasi, hingga lembaga pelatihan. Presiden selalu mengatakan Indonesia Inc, yang artinya inilah kita semua," tutur Shinta.
Lebih jauh, Shinta menekankan pentingnya merevitalisasi konsep link and match menjadi kemitraan yang lebih fungsional. Industri tidak boleh lagi diposisikan hanya sebagai pengguna, tetapi harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan itu sendiri.
"Konsep link and match perlu ditingkatkan menjadi kemitraan strategis yang lebih mendalam. Industri harus menjadi mitra aktif dalam proses pendidikan dan pengembangan kompetensi," papar Shinta.
Seturut itu, Shinta menegaskan soal keberhasilan reindustrialisasi tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik pabrik atau angka investasi yang masuk. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kualitas sumber daya manusia yang diciptakan.
"Keberhasilan sesungguhnya diukur dari kemampuan kita membangun manusia Indonesia yang produktif, kompeten, dan inovatif. Hanya dengan SDM unggul, kita mampu bersaing di tingkat global," kata dia.
(Taufik Fajar)