JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Agustus 2026 menyentuh angka USD23,06 miliar. Realisasi ini mengalami peningkatan sebesar 19,09 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan bahwa lonjakan kinerja impor tersebut paling dominan ditopang oleh masuknya komoditas nonminyak dan gas (nonmigas) yang nilainya mencapai USD19,53 miliar, atau tumbuh 17,20 persen YoY. Sementara itu, nilai impor migas Indonesia tercatat sebesar USD3,53 miliar, atau melonjak 30,73 persen YoY.
“Total impor mengalami peningkatan secara tahunan utamanya didorong oleh impor non migas dengan andil peningkatan 14,57 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan kategori penggunaannya, seluruh kelompok barang impor mencatatkan pertumbuhan positif, mulai dari barang konsumsi, bahan baku/penolong, hingga barang modal.
Rinciannya, nilai impor barang konsumsi mencapai USD2,10 miliar atau naik 11,93 persen YoY. Kemudian, impor bahan baku/penolong mencatatkan porsi terbesar senilai USD16,67 miliar atau melesat 22,48 persen YoY.
Adapun impor barang modal tercatat sebesar USD4,28 miliar, atau mengalami kenaikan sebesar 10,53 persen.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total nilai impor Indonesia telah menyentuh USD186,39 miliar, atau meningkat 19,84 persen secara tahunan.
Akselerasi impor nasional sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026 tersebut didominasi oleh pasokan bahan baku/penolong yang memberikan andil peningkatan sebesar 14,69 persen.
(Taufik Fajar)