JAKARTA - Peluang peningkatan investasi hulu migas Indonesia masih terbuka lebar seiring besarnya potensi sumber daya yang belum dikembangkan. Dukungan Pemerintah melalui penyempurnaan kebijakan dan fleksibilitas skema kontrak menjadi modal penting untuk semakin meningkatkan daya tarik investasi.
Ke depan, kolaborasi pemerintah, regulator, dan pelaku usaha perlu terus diperkuat untuk mendorong investasi, menemukan cadangan baru, meningkatkan produksi, dan mendukung ketahanan energi nasional.
Direktur Keuangan PHE Bayu Kusuma Dewanto mengatakan, pelaku usaha pada dasarnya memiliki keinginan untuk meningkatkan investasi hulu migas. Apalagi investasi hulu migas Indonesia juga terbukti cukup besar dan tumbuh dari tahun ke tahun. Untuk tahun lalu saja tercatat sekitar sekitar USD15 miliar atau setara Rp276 triliun ini berpotensi meningkat signifikan pada tahun-tahun mendatang.
“Pelaku usaha sebenarnya mau investasi besar-besaran. Kalau bicara angka investasi hulu USD15 miliar atau Rp276 triliun. PHE 2025 itu spend USD5 miliar. Apa yang dibutuhkan? Kerja sama yang bagus,” ujar Bayu dalam konferensi pers menuju Forum Ekonomi Hulu Migas 2026, Selasa (6/10/2026).
PHE sendiri berencana meningkatkan belanja investasi hingga sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan 2025. Menurut Bayu hal serupa juga bakal ditempuh KKKS dalam mempertahankan atau meningkatkan investasinya.
Kebutuhan investasi hulu migas ke depan memang diperkirakan akan semakin besar seiring tantangan menjaga produksi minyak nasional. PHE sendiri sedang menggarap sejumlah proyek besar juga menjadi fokus investasi, antara lain pengembangan enhanced oil recovery (EOR) berbasis chemical serta pengembangan Migas Non Konvensional.
“PHE ada beberapa yang besar, paling besar Rokan MNK dan EOR chemical. Karena produksi minyak konvensional tidak sejalan dengan kebutuhan. Kebutuhan minyak grafiknya menunjukkan curam, sementara produksi hampir stagnan,” katanya.
Selain itu investasi hulu migas sudah sepatu ya ditujukan untuk meningkatkan cadangan. Dari sekitar 128 cekungan yang ada, masih ada separuhnya belum tersentuh eksplorasi sama sekali. “Kita coba menyentuh itu, kita coba tapping ke situ dengan uang yang siap kita investasikan,” katanya.
Namun, investasi eksplorasi memiliki karakteristik jangka panjang dan berisiko tinggi. Setelah pengeboran eksplorasi dilakukan, penemuan minyak pun masih membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum dapat diproduksikan.
Karena itu, pentingnya kepastian regulasi dan keekonomian proyek dalam menentukan keputusan investasi. Menurutnya, besarnya modal dan panjangnya periode pengembalian investasi membuat konsistensi kebijakan menjadi faktor penting bagi pelaku usaha.
“Kita spend USD15 miliar di 2025 ini sangat-sangat besar. Jadi tanpa ada kepastian hukum dan kepastian kebijakan akan sangat sulit bagi pelaku usaha apa pun itu untuk bisa menginvestasikan uangnya,” tegasnya.