Bahlil menegaskan, dampak hilirisasi tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai ekspor. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional melalui pengembangan industri pendukung, peningkatan partisipasi pengusaha dalam negeri, penguasaan teknologi, serta penciptaan lapangan kerja.
Dengan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri, pemerintah berharap kekayaan sumber daya alam dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Pemerintah pun berencana memperluas strategi hilirisasi ke berbagai sektor lain. Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah telah menyiapkan peta jalan hilirisasi hingga 2040 dengan target investasi mencapai USD618 miliar.
Cakupan hilirisasi tersebut tidak hanya meliputi mineral dan batubara, tetapi juga minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.
Bahlil menyebut target investasi tersebut sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk memperkuat transformasi ekonomi Indonesia melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
"Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040 target kita mencapai 618 miliar USD," ungkapnya.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap keberhasilan hilirisasi nikel dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan industri pengolahan di sektor lain. Dengan demikian, peningkatan ekspor tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah, tetapi semakin didukung produk bernilai tambah yang memperkuat daya saing industri nasional.
(Taufik Fajar)